Tuesday, September 27, 2016

Wednesday, September 21, 2016

rizki itu given


RIZKI ITU “GIVEN”
Oleh : RUM BUDI

Pengertian rizki sesungguhnya tidak hanya terbatas pada banyaknya harta dan uang, atau sebatas kekayaaan saja. Padahal kesehatan, keselamatan, kebahagiaan, pengetahuan, ketenangan adalah rizki yang dipahami oleh banyak orang bahwa nilainya jauh lebih besar dibanding dengan kekayaan harta benda. Secara umum rizki memang mempunyai dua pengertian, yang pertama mencakup pengertian bersifat nikmat fisik dan yang ke dua pengertian bersifat nikmat hati atau kejiwaan.

Adanya rizki manusia dalam kehidupan ini sudah ditentukan oleh Pemberi rizki yaitu Allah subhanahu wata’ala sebagai  “Al-Razzaq”, yang Maha Pemberi Rizki. Allah-lah pencipta, pemilik satu-satunya dan  penjamin semua jenis rizki makhluk-makhluk-Nya. Itulah Tauhid Rububiyyah sebagaimana Allah berfirman : Apakah mereka yang membagi-bagi rahmat Tuhanmu? Kami telah menentukan antara mereka penghidupan mereka dalam kehidupan dunia, dan kami telah meninggikan sebahagian mereka atas sebagian yang lain beberapa derajat, agar sebagian mereka dapat mempergunakan sebagian yang lain. Dan rahmat Tuhanmu lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan. (QS Az-Zukhruf: 32).

Jatah rizki manusia memang berbeda-beda, ada manusia yang kaya adapula yang miskin, semua terserah Allah kepada siapa saja yang dikehendakiNya. “Katakanlah: “Sesungguhnya Tuhanku melapangkan rezki bagi siapa yang dikehendaki-Nya dan menyempitkan (bagi siapa yang dikehendaki-Nya), akan tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (QS Saba: 36).

Banyak manusia memang tidak tahu bahwa rizki itu “Given” atau jatah dari Allah dan kaya atau miskin itu dikehendaki oleh Allah pula. Manusia merasa bahwa harta dan anak yang dimiliki itu atas hasil usahanya. Padahal Allah tidak memberikan rizki duniawi itu kepada orang yang usahanya keras dan berambisi saja, sehingga seluruh hidupnya untuk mengejar rizki, namun juga bagi orang yang tidak menginginkannya. Coba direnungkan, betapa banyak orang yang berambisi mengejar rizki sampai siang malam justru kondisinya dalam kesengasaraan dan kemiskinan. Kesengsaraannya dan kemiskinan malah dirasakan sesuai dengan ambisinya mengejar dunia.  Berbeda lagi dengan orang yang sadar betul bahwa rizki itu sudah diatur, masing-masing orang sudah ada jatahnya dari Allah, sehingga keimanannya kepada takdir tentang rizki membawa dirinya berlaku pola hidup sederhana, sehingga Allah berikan harta kepadanya dan semakin memuliakannya dengan harta tersebut.

Dari Abu Abdurrahman Abdullah bin Mas’ud, ia berkata, Rasulullah –orang yang benar dan dibenarkan- menceritakan kepada kami, “Sesungguhnya setiap kalian dikumpulkan penciptaannya di dalam perut ibunya selama empat puluh hari dalam bentuk nuthfah, kemudian menjadi ‘alaqah selama empat puluh hari juga, kemudian menjadi mudhghah selama empat puluh hari juga. Kemudian seorang malaikat diutus kepadanya lalu ia meniupkan ruh kepadanya dan diperintah untuk menuliskan empat perkara: menuliskan rizki, ajal dan amalnya, serta ia menjadi orang yang bahagia atau sengsara.” (HR Bukhari Muslim).

Orang beriman harus yakin betul bahwa Allah telah menetapkan rizki kepada setiap manusia saat diciptakanNya dengan adil sampai manusia menemui ajalnya. Rizki manusia tidak akan habis sebelum dicabut nyawanya. Amal manusia akan berakhir atau berhenti pada saatnya sesuai dengan ketetapanNya. Demikian juga kebahagiaan dan kesengsaraan yang dialami dan akan menimpa manusia, semua telah diketahui dan ditetapkan oleh Allah subhana wata’ala. Bagi orang yang beriman itulah bagian dari cara beriman kepada takdir Allah dengan benar.

Bagaimana dengan orang yang menyelisihi hadist Dari Abu Abdurrahman Abdullah bin Mas’ud tersebut? Mereka menganggap bahwa rizki itu diperoleh dari hasil usahanya dan berfaham bahwa semua itu terjadi karena adanya sebab-akibat dari apa yang mereka kerjakan. Bahkan mereka mengatakan Allah tidak adil atas penetapan rizki kepada manusia. Pendapat mereka tersebut boleh jadi  menjadikan kekufuran bagi mereka terhadap takdir Allah dan gugurlah iman mereka. Keadaan mereka seperti keadaan orang kafir jaman Rasulullah atau umat terdahulu, sebagaimana Allah berfirman: “dia Qorun berkata, sesungguhnya aku diberi harta itu, semata-mata karena ilmu yang ada padaku. Tidaklah dia tahu, bahwa Allah telah mebinasakan umat-umat sebelumnya yang lebih kuat daripadanya, dan lebih banyak mengumpulkan harta? Orang yang berdosa itu tidak perlu ditanya tentang dosa-dosa mereka”. (QS Al-Qasas: 78). 

Friday, August 19, 2011

Bagian Korupsi Kisah Qorun

oleh M. Rum Budi Susilo.

Allah Swt. Telah memberi petunjuk berupa pelajaran tentang sejarah Qorun: seorang yang hidup di Jaman Nabi Musa, sebagai bendahara negara (kerajaan), tetapi dia mengambil uang negara bersama Fir'aun dan teman-temannya untuk melanggengkan kekuasaan Fir'aun dalam menindas perekonomian rakyatnya. Berbagai kritik dari para moralis telah disampaikan kepada Qorun, tetapi justru Qorun tidak bergeming sama sekali, bahkan Qorun bembanggakan hartanya dengan show di jalan, menunjukkan kepada rakyatnya seakan-akan Qorun tidak malu bahwa harta yang diperolehnya itu berasal dari Korupsi yaitu mengambil uang Negara untuk kepentingan dirinya dan golongannya. Akibatnya Qorun dan Rumahnya telah dibenamkan Oleh Allah Swt kedalam bumi. Maka selesailah babak Kehidupan lembaran Qorun di Jaman Nabi Musa. Kisah Qorun memang sudah berlalu tapi pengikutnya banyak sekali sampai akhir jaman.

Perhatikan Firman Allah Swt. tentang kehidupan Qorun itu di dalam Al-Qur'an Surat Al-Qasas ayat 76 s/d 81 (QS 28/76-81).

" Sesungguhnya Qorun adalah termasuk kaum Musa, maka berlaku aniaya terhadap mereka. Dan Kami telah menganugerahkan kepadanya perbendaharaan harta yang kunci-kuncinya sungguh berat dipikul oleh sejumlah orang yang kuat-kuat. Ingatlah ketika kaumnya berkata  kepadanya: " janganlah kamu terlalu bangga; sesungguhnya Allah Swt tidak menyukai orang-orang yang terlalu membanggakan diri". (QS 28/76).

" Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah swt kepadamu (kebahagiaan) negeri akherat dan janganlah kamu lupakan bahagiaanmu dari kenikmatan duniawi dan berbuat baiklah kepada orang lain sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan dimuka bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan. (QS 28/77).

Qarun Berkata: "sesungguhnya aku hanya diberi harta itu karena ilmu yang ada padaku". Dan apakah ia tidak mengetahui, bahwasanya Allah telah membinasakan umat-umat sebelumnya yg lebih kuat dari padanya dan lebih banyak mengumpulkan harta? dan tidaklah perlu ditanya kepada orang-orang yang berdosa itu tentang dosa-dosa mereka. (QS 28/78).

Maka keluarlah Qorun kepada kaumnya dalamkemegahannya. Berkatalah orang-orang yang menghendaki kehidupan dunia: " Moga-moga kiranya kita mempunyai seperti apa yang telah diberikan kepada Qorun; sesungguhnya ia benar-benar mempunyai keberuntungan yang besar". (QS 28/79).

Berkatalah orang-orang yang dianugerahi ilmu:"kecelakaan yang besar bagimu, pahala Allah adalah lebih baik bagi orang-orang yang beriman dan beramal saleh, dan tidak diperoleh pahala itu kecuali oleh orang-orang yang sabar". (QS 28/80).

Maka kami benamkanlah Qorun beserta rumahnya kedalam bumi. Maka tidak ada baginya suatu golonganpun yang menolongnya terhadap azab Allah. dan tidaklah ia termasuk orang ang dapat membela dirinya. (QS 28/81).

Di Jaman Modern di Indonesia dimana saya hidup ada sederetan lembaran kisah dari perulangan lembaran korupsi Qorun, yaitu lembaran kisah Edy Tansil, Gayus, sampai Nazarudin. Dan saya yakin lembaran korupsi Edy Tansil, Gayus, dan Nazarudin merupakan lembaran kisah yang telah, sedang dan akan selalu diikuti oleh berjuta-berjuta orang pengikutnya yang hidupnya berorientasi pada dunia sebagaimana digambarkan dalam QS 28/79 tadi.

Bukankah hidup dengan limpahan harta korupsi itu senantiasa berakhir dengan ditenggelamkam Rumah Pelaku Korupsi itu ke Rumah Penjara. Belum nanti kalau pelaku korupsi itu kemudian dihadapkan pada pengadilan Akherat. Apakah tidak cukup untuk dipirkannya. Hidup memang pilihan, tetapi mengapa kita tidak memilih jalan Allah, sehingga kita tidak dibinasakan Allah di dunia dan di Akherat.




Wednesday, August 17, 2011

Rum Al Jawwi: PUASA MAMPU MENYIBAK HAL NGGAK PENTING

Rum Al Jawwi: PUASA MAMPU MENYIBAK HAL NGGAK PENTING

Rum Al Jawwi: PUASA MAMPU MENYIBAK HAL NGGAK PENTING

Rum Al Jawwi: PUASA MAMPU MENYIBAK HAL NGGAK PENTING

PUASA MAMPU MENYIBAK HAL NGGAK PENTING


Tahukah hal yang nggak penting itu? Jawabnya apa saja yang tidak ada gunanya baik dalam berfikir, berkata maupun berbuat. Setiap yang dipikirkan, dikatakan dan diperbuat mestinya mengisi lembaran indah waktu hidup seseorang. Siapa yang dapat menggunakan waktu untuk berfikir, berkata, dan berbuat yang bermanfaat dia telah menggenggam dunia dan Insya Allah selamat di akherat.

Bulan puasa tahun ini mestinya memberikan bekal untuk dapat menyongsong hidup yang akan datang adalah hidup yang lebih bermanfaat, sebab orang yang telah berhasil puasanya mampu menyibak hal-hal yang nggak penting.

Modal utama seseorang adalah waktu-waktu yang ia genggam. Ketika seseorang memakainya untuk hal yang nggak penting dan nggak berguna maka seseorang itu telah menyia-nyiakan modalnya. Rasulullah Saw. bersabda : "Bagian dari baiknya keislaman seseorang adalah ia meninggalkan apa yang tidak berguna baginya. (HR Tirmidzi dan Ibnu Majah).

Dari Abu Dzar, "Rasulullah Saw. berkata kepadaku, "Maukah engkau aku ajarkan satu perbuatan ringan bagi anggota badan, namun berat dalam timbangan(amal akherat)?. Jawabku, ' Tentu saja, wahai Rasulullah!' Beliau kemudian berkata, yaitu diam, berbudi pekerti yang baik dan meninggalkan sesuatu yang tidak berguna bagimu! (HR Abi Dunya).

Jangan bicara sesuatu yang tidak berguna bagimu, sesungguhnya itu berlebihan dan bisa jadi akan menyebabkan dosa. Jangan berbicara sesuatu yang berguna bagimu sampai engkau menemukan tempat yang tepat. Banyak orang berbicara tentang sesuatu yang berguna baginya, namun tidak pada tempatnya sehingga menyulitkannya. (Ibnu Abbas).

Banyak ha-hal yang nggak penting telah mengisi hidup dan kehidupan Jaman Gelombang Informasi. Menyia-nyiakan waktu berdzikir kepada Allah Swt telah mengisi amalan sehari-hari sehingga seorang secara tidak sadar menuai kerugian amat besar lagi nyata. Untuk itu pastikan bahwa hikmah kewajiban seorang muslim berpuasa itu dapat menyibak hal yang nggak penting, sebab boleh jadi kematian akan menjemput sehingga tak ada lagi hari esok
.

Saturday, September 4, 2010

PINTU SURGA BAGI WANITA

Apabila seorang perempuan menunaikan shalat lima waktu, menjaga kemaluannya dan menaati suaminya, maka ia akan masuk surga dari pintu mana saja yanng ia sukai [ HR. Ibnu Hibban dari Abu Hurairah r.a]

Hakikat Istri :
1. Pendamping suami,sumber spirit dan inspirasi suami
Memenuhi hak-hak suaminya, menghormati dan memuliakan serta mendampingi suaminya adalah ibarat pintu surga bagi seorang istri.
" Sebaik-baik wanita (istri) ialah stri yang apabila engkau (suami) melihatnya, ia akan menyenangkan hatimu, bila engkau perintah dia mematuhinya; dan bila engkau jauh darinya, dia menjagamu (kehormatanmu), hartamu dan (kehormatan) dirinya" [HR Ibnu Jarir dan BAihaqi dari Abu Hurairah r.a]

2. pencuci jiwa atau ruhani suami
"apabila seorang suami mengajak istrinya ke tempat tidur, tapi ia menolak untuk datang, lalu sang suami marah sepanjang malam, maka para malaikat melaknatnya hingga datang pagi" [HR Bukhari dan Muslim]

3. Bidadari rumah tangga

4. Perhiasan rumah tangga
"Dunia ini laksana perhiasan, dan sebaik-baik perhiasan adalah wanita shalihah" [HR Muslim]
"Kebahagiaan manusia itu ada 3 dan kesengsaraannya juga ada 3. Kebahagiaan manusia yaitu : istri shalihah, rumah yang bagus, dan kendaraan yang baik. Sedangkan, kesengsaraanmya yaitu : istri yang jahat, rumah yang jelek dan kendaraan yang jelek" [ HR Ahmad dari Sa'ad bin Abi Waqqash r.a]

Tuesday, June 29, 2010

Sesama Manusia, Bolehkah Saling Merendahkan?

Oleh : bu RumBudi

Ibrahim, sang Nabi yang mengajarkan Tauhid untuk pertama kali, bukan berasal dari keturunan orang yang taat kepada Sang Pencipta yang Esa. Ayahnya adalah penyembah berhala.

Dan (ingatlah) di waktu Ibrahim berkata kepada bapaknya Aazar: "Pantaskah kamu menjadikan berhala-berhala sebagai tuhan-tuhan? Sesungguhnya aku melihat kamu dan kaummu dalam kesesatan yang nyata". [6:74]

Nuh, Nabi yang dikatakan gila oleh kaumnya karena membuat perahu di puncak gunung, memiliki anak yang tidak taat kepada Allah yang Esa.

Dan bahtera itu berlayar membawa mereka dalam gelombang laksana gunung. Dan Nuh memanggil anaknya sedang anak itu berada di tempat yang jauh terpencil: "Hai anakku, naiklah (ke kapal) bersama kami dan janganlah kamu berada bersama orang-orang yang kafir." [11:42]
Anaknya menjawab: "Aku akan mencari perlindungan ke gunung yang dapat memeliharaku dari air bah!" Nuh berkata: "Tidak ada yang melindungi hari ini dari adzab Allah selain Allah (saja) Yang Maha Penyayang". Dan gelombang menjadi penghalang antara keduanya; maka jadilah anak itu termasuk orang-orang yang ditenggelamkan. [11:43]

Luth, Nabi yang kaumnya lebih memilih homoseks, memiliki istri yang tidak mau menngikuti ajakannya untuk taat kepada Allah.

Kemudian Kami selamatkan dia (Luth) dan pengikut-pengikutnya kecuali istrinya; dia termasuk orang-orang yang tertinggal (dibinasakan).[7:83]

Allah membuat istri Nuh dan istri Lut perumpamaan bagi orang-orang kafir. Keduanya berada di bawah pengawasan dua orang hamba yang shaleh di antara hamba-hamba Kami; lalu kedua istri itu berkhianat kepada kedua suaminya, maka kedua suaminya itu tiada dapat membantu mereka sedikit pun dari (siksa) Allah; dan dikatakan (kepada keduanya); "Masuklah ke neraka bersama orang-orang yang masuk (neraka)" [66:10]

Asiah, istri Fir'aun adalah istri yang taat kepada Allah walaupun dia hidup dalam lingkungan Fir'aun yang super sombong karena menolak keberadaan Allah, bahkan Fir'aun mengaku sebagai tuhan yang bisa mennghidupkan dan mematikan. Asiah rela disiksa suami-nya demi mempertahankan keimanannya. Asiah berdoa untuk dibangunkan rumah di surga, dan Allah mengabulkan.

Dan Allah membuat istri Fir'aun perumpamaan bagi orang-orang yang beriman, ketika ia berkata: "Ya Tuhanku, bangunlah untukku sebuah rumah di sisi-Mu dalam surga dan selamatkanlah aku dari Fir'aun dan perbuatannya dan selamatkanlah aku dari kaum yang dzalim",[66:11]

Sesungguhnya keturunan, pasangan hidup, atau orang tua tidak bisa menjamin dapat memberikan kualitas keimanan yang sama. Masing-masing orang akan bertanggung jawab sendiri-sendiri atas apa yang telah diperbuatnya. Tidak ada yang bisa menolong kecuali Pertolongan Allah, pada hari pembalasan nanti.

Lalu, apakah kita akan bangga karena dilahirkan oleh orang tua yang berdarah "biru", atau berharta "banyak", berotak cerdas?

Apakah kita akan bangga karena memiliki pasangan hidup seorang "da'i", 'ulama, atau kyai?
Apakah kita akan bangga karena memiliki anak2 yang pandai mengaji, tapi shalatnya banyak absen-nya?
Apakah kita bangga dengan gelar pendidikan yang telah kita raih?
Apakah kita bangga dengan atribut2 duniawi???

Seringkali KEBANGGAAN itu membuat kita merasa lebih tinggi derajatnya dari pada orang lain....
Manusia sering membuat kualifikasi untuk membedakan derajat sesama-nya..
Sementara Sang Pencipta-lah yang lebih mengetahui kualitas ciptaan-Nya...

Sunday, December 20, 2009

Umat Islam Harusnya Terdepan Dalam Anti Korupsi

Oleh : M. Rum Budi S
Beberapa upaya telah ditempuh untuk membrantas korupsi , saat ini dilakukan oleh beberapa institusi: Tim Tastipikor (Tindak Pidana Korupsi), KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi), Kepolisian, Kejaksaan, BPKP, Lembaga non-pemerintah: Media massa Organisasi massa (mis: ICW). Sesungguhnya bila dibandingkan dengan Era Orde Baru, pada Zaman Reformasi ini pemberantasan korupsi di Indonesia sudah sangat berkembang, namun hingga kini hasilnya belum menunjukkan titik terang, mungkin karena sumber oknum korupsi justru berada di dalam institusi penegak hukum (Kepolisian dan Kejaksaan). Hal itu yang membikin pemberantasan korupsi susah diuraikan. Mungkin yang paling tepat pemberantasan korupsi itu dimulai dari diri sendiri.
Tanggal 9 Desember telah ditetapkan sebagai hari anti korupsi se dunia. Sebagai orang muslim harus menanggapi sebagai aksi gerakan moral yang cukup baik untuk memulai mengetuk pada diri sendiri, dan terus menjaga kebenciannya terhadap korupsi. Di dalam diri harus ditanamkan betul-betul bahwa korupsi itu pertanggung jawaban diakherat nanti itu sangat berat, dan dalam hati sorang mukmin harus dipatrikan kebenciannya terhadap korupsi, sebagaimana bencinya bila dicampakkan ke neraka .
Karena korupsi itu akan merusak tatanan akhlak bangsa , maka seharusnya seorang muslim secara terus menerus menasehatkan kepada diri sendiri, kelurga dan bangsa ini untuk berjihad melawan korupsi. Sudah menjadi pemahaman orang banyak bahwa korupsi di Indonesia ini sudah menjadi penyakit kronis. Dalam seluruh penelitian perbandingan korupsi antar negara, Indonesia selalu menempati posisi paling rendah. Karena korupsi di Indonesia berkembang secara sistemik, sehingga masyarakat Indonesia (mungkin termasuk orang muslim) menganggap bahwa korupsi bukan lagi merupakan suatu pelanggaran hukum, melainkan sekedar suatu kebiasaan. Dengan demikian mata hati bangsa ini seolah-olah buta karena tidak bisa membedakan korupsi itu benar atau salah, padahal umat Islam hampir 88% dari penduduk di Indonesia, yang seharusnya mengenal betul bahwa korupsi suatu kesalahan besar.
Berdasarkan penilaian Lembaga Dunia, justru Negara yang tidak terkorupsi itu malah Negara Denmark yang menurut catatannya Negara Ateis. Oleh karena itu mengacu pada penilaian Lembaga Dunia itu, maka tidak ada kaitan antara agama seseorang dengan korupsi. Bagaimana dengan Orang Islam yang diciptakan terbaik ditengah-tengah masyarakat dunia, kok masih ada yang melakukan korupsi?. Islam itu bukan identitas lho, tapi Islam itu Din (tuntunan hidup di dunia) yang harus diikuti umatnya. Dengan demikian walaupun ada orang mempunyai identitas islam kalau korupsi berarti belum sempurna memenuhi tuntunan Din islam. Menurut aturannya memeluk Din Islam ini harus kafah, sehingga sebagai umat islam yang kuat dan baik mari memberantas korupsi dengan sungguh-sungguh dimulai dari diri sendiri mudah-mudahan berpengaruh luas terhadap Bangsa Indonesia yang mayoritas umat islam. Sudah saatnya umat islam menjadi garda paling depan dalam anti korupsi.
Pada jari anti korupsi ini mari kita renungkan kembali ayat –ayat Al-Quran sebagai berikut:



QS 3/ 110. Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma`ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka; di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik.
QS 3/104. Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma`ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung.



QS 2/ 208. Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhannya, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu.







Wednesday, October 14, 2009

PENCIPTAAN MANUSIA

Dirangkai oleh : bu RumBudi

Asal mula manusia diciptakan dari shalshaalin - tanah liat kering - (15;26), kemudian Allah menjadikan keturunannya dari sulaalatin - saripati air yang hina - (32;8), menjadi segumpal darah, tumbuh menjadi segumpal daging, untuk membentuk jasmani yang disimpan dalam rahim (22;5). Dia menyempurnakan ciptaanNya dengan meniupkan ke dalam jasmaninya roh (ciptaan) –Nya (32;9). Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): "Bukankah Aku ini Tuhanmu?" Sang jiwa menjawab: "Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi" (7:172). Dia menjadikan bagi manusia pendengaran, penglihatan (32;9) - untuk menerima informasi dari luar - , dan hati untuk menimbang baik buruknya informasi yang diterima (32:9). Hingga jika telah sampai pada waktu yang sudah ditetapkan, manusia dikeluarkan sebagai bayi (22;5). Allah menugaskan manusia dengan penciptaan yang sempura itu HANYA UNTUK MENGABDI KEPADA-NYA (51;56).

Untuk memenuhi kehidupan manusia, Allah telah menciptakan binatang yang bisa dikuasai manusia untuk diternakkan (32;71), ada yang dijadikan tunggangan (36;72), dan sebagian lain diambil dagingnya untuk dimanfaatkan atau diambil air susunya untuk minuman (36;73). Kemudian diberiNya pula fasilitas tumbuhan yang sebagian bisa dimakan, tetapi sebagian lainnya beracun.
Dengan penciptaan yang sempurna dibandingkan makhluk lain seperti binatang atau tumbuhan, Allah menghendaki manusia memiliki derajat yang tinggi dibandingkan ciptaan lainnya agar manusia menjadi makhluk yang selalu bersyukur, yaitu menggunakan fasilitas2 yang sudah diberikan UNTUK MEMURNIKAN KETAATAN HANYA KEPADA-NYA.

Tetapi kebanyakan manusia tidak mau bersyukur, bahkan mereka lebih memilih kenikmatan dunia ini dan mengikuti keinginannya, yang bernilai rendah di hadapanNya, bahkan mereka melupakan akhirat, yang bernilai tinggi di hadapanNya (7;176). Mereka merasa puas dan tenteram dengan kehidupan dunia ini, lalai dengan ayat-ayat Allah (10;7) bermegah-megah dan berbangga-bangga akan banyaknya harta dan anak (57;20), padahal kehidupan dunia hanyalah kesenangan yang memperdayakan (3;185), senda gurau dan main-main (29;64).
Hati yang sudah diberikan oleh Allah tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah), mata-nya tidak dipergunakan untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan telinganya tidak dipergunakan untuk mendengar (ayat-ayat Allah) (7;179). Padahal ketiganya kelak akan dimintai tanggung jawab (17;36). Kelak di akhirat mereka akan menyesal.

Na’udzubillaahi mindzaalik... Mudah-mudahan kita tidak termasuk golongan yang banyak ini, tetapi termasuk golongan sebaliknya yang berjumlah sedikit. Yaitu orang yang selalu mensyukuri setiap pemberian-Nya, taat Allah dan Rasul-Nya agar mendapat Rahmat-Nya (3;132), bersegera memohon ampunan jika lalai, berbuat keji atau menganiaya diri sendiri (3;135). Astaghfirullah...

Friday, September 25, 2009

Hari Kemenangan Idul Fitri

Oleh: M. Rum Budi S.

Masyarakat Melayu (Indonesia-Malaysia) sering menyebut hari raya idul fitri adalah hari kemenangan umat islam setelah menjalani puasa satu bulan penuh. Sayangnya pengertian kemenangan itu cuma diartikan sebagai kebebasan makan-minum di waktu siang, sehingga idul fitri tidak lebih hanya hari-hari liburan untuk kumpul-kumpul sambil melakukan pesta-pesta makan, celebration dengan pakaian baru, sepatu baru. Bukan demikian seharusnya, kemenangan idul fitri itu sesungguhnya kemenangan untuk orang yang bertaqwa yang takut akan hari yang tidak ada pertolongan kecuali pertolongan Allah.

Kemenangan bagi orang mukmin bukan kemenangan yang diartikan hiburan, nyanyian, dan useless action (kegiatan tak bermanfaat), tetapi kemenangan itu harus diartikan sebagai wujud syukur terhadap perintah-perintah Allah, sehingga apa yang telah diwajibkan Allah dan menjadi akhlak di bulan puasa seperti kebiasaan jujur terhadap Allah, tadarus Alqur’an, dan sholat malam harus dapat dijaga dan ditingkatkan pengamalannya sampai 11 bulan yang akan datang.

Jadi kemenangan idul fitri itu seharusnya diartikan sebagai awal dari bentuk nyata suatu tindakan atau amaliyah nilai-nilai didikan Allah di bulan puasa untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari sehingga mendatangkan ampunan Allah. Karena bagi orang-orang mukmin ampunan Allah adalah anugerah terbesar yang diberikan kepada manusia walaupun orang-orang kafir senantiasa membencinya. Rasulullah salallahu’alaihi was salam (saw) bersabda: “Kecewa dan merugi orang yang berkesempatan (hidup) pada bulan romadhon tetapi tidak terampuni dosa-dosanya” (HR Ahmad).

Tidak ada kata terlambat untuk mencapai ampunan Allah, karena Allah Maha Pengampun dan Maha Menerima Taubat. Sampai dijelaskan oleh Nabi Muhammad saw: “Allah menerima taubat seseorang sebelum nafas sampai di tenggorokan “. Mumpung masih ada kesempatan hidup seorang mukmin seharusnya menjadikan idul fitri itu sebagai hari kemenangan untuk bersegera bertaubat kepada Allah, dengan meningkatkan dan memperbaiki hubungan vertikal dengan Allah dan hubungan horisontal dengan manusia. “Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa, (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang lain. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.” (QS Ali Imran 133 -134).

Kembali kepada Allah pada suata saat kematian nanti dengan mendapat ampunan Allah sehingga tanpa dosa sebagaimana manusia lahir pertama kali di bumi itulah sesungguhnya hari kemenangan sejati. Dan kematian chusnul khotimah itu hanya milik orang-orang mukmin yang melakukan Taubatan Nasuha, yaitu taubat yang bener-bener taubat. Bukan taubat yang main-main sebagaimana para artis sinetron yang pada saat bulan puasa seperti taubat tapi sesudahnya kembali kepada kesesatan.

Saturday, July 25, 2009

Ini Hari Jumat Tapi Saya Tidak Takut

Oleh: M. Arifin J. Pradipto

Biasa hari jumat.....hari yang selalu saya tunggu karena hari itu berati saya bisa pulang ke bandung bertemu kembali dengan istri dan anak-anakku, setelah sejak senin saya tinggal ke jakarta dan harus bergelut dengan pekerjaan kantor yang sangat melelahkan, apalagi matahari jakarta tak pernah merasa kasian sedikitpun kepada siapa saja yang ada dibawahnya....dan biasa juga kalau pulang bandung saya selalu menggunakan travel jakarta bandung yang sudah menjadi langganan....antrian dengan sederet daftar tunggu yang kadang sangat panjang sering terjadi pada weekend seperti ini....kebetulan waktu itu saya mendapat pemberangkatan yang tidak terlalu malem sekitar jam lima sore dari satu shuttle point di jakarta.

Perjalanan sangat pelan dengan, biasa....., kepadatan dan kerumitan jalanan jakarta pada jam pulang kerja...begitu sangat lamban hingga untuk mencoba tidurpun menjadi sangat susah...dengan bayangan betapa lamanya saya harus sampai ke bandung dengan kondisi jalanan yang begini...kadang menjadi marah, entah pada siapa, tapi yang jelas perasaan itu mengusik kantuk dan membuat mata membelalak dengan pikiran melayang-layang yang menyebabkan semua persoalan malah bermunculan dan meminta dipecahkan dengan paksa......tapi segala keterpaksaan tak pernah menghasilakan apa-apa.....betapa suntuk dan penatnya semua beban itu terasa.....

Sampai di bandung sudah agak malem sekitar jam setengah sembilan....saya harus turun dari travel di tempat dimana saya biasa berganti dengan angkot yang membawa saya menuju jalan pulang....bersama dengan dua penumpang yang lainnya kami turun di tempat yang sama. Dengan segala kegesitan bak seorang prajurit di medan perang mereka dengan sigap berjalan hampir berlari ke arah yang tanpa saya ketahui hilang ditelan angin yang kebetulan malem itu amat dingin....ah biar saja saya tidak perduli, yang saya pikirkan adalah dapet angkot trus pulang....tapi entah kenapa lama sekali sang jagoan belum nongol-nongol juga....dengan gelisah saya melongok, merokok, melamun dan entah kenapa saya menengok kebelakang dan........

Disitu saya melihat masjid yang berdiri tenang seperti tidak tersenyum tetapi juga tidak kelihatan arogan....kalem dan sangat bersih....tidak banyak tanaman, semua polos dan cuma ada sepetak rumput tetapi sangat terawat, datar dan sangat hijau.......mungkin karena memang sudah malem untuk ukuran orang sholat isa’ hingga sangat sepi, cuma ada satu orang di dalam masjid yang duduk bersila, saya tidak tahu persis apa yang sedang dilakukannya karena saya berada di luar.....

Andai saja sekompi tentara berlompatan dari truk anti huru hara persis di depan saya dan menodongkan senjata mereka ke arah saya untuk memaksa melakukan hal lain selain naik angkot mungkin saya akan menjawab ”tidak! saya harus naik angkot sekarang, saya suntuk, saya mau pulang!....Ini hari jumat pak?!”......tetapi entah kenapa waktu itu saya justru melangkahkan kaki saya memasuki masjid itu......saya lepas sepatu dan tidak saya duga di tempat penitipan sepatu masih ada penjaganya, saya titipkan dan bapak itu menyodorkan kartu penitipan yang terbuat dari mika dengan angka ditulis tangan menggunakan spidol hitam.........

Niat awal saya sebenarnya sekalian buang air kecil toh kalau sholat sebenarnya bisa saya lakukan setelah sampai di rumah....dan biasanya juga begitu.....kemudian saya ambil air wudlu, dengan sebelumnya saya buang air kecil sesuai rencana,......setelah selesai berwudlu sambil mengusap-usap air wudlu yang tersisa di wajah, mengelap dan mengibas-ibaskan yang di tangan, saya masuki masjid, saya melihat bapak yang tadi masih duduk bersila disitu, saya ambil tempat agak ke sisi samping mepet dengan tembok, berdiri dan siap sholat, tiba-tiba..........

Deb!.........masjid itu seperti tiba-tiba berubah menjadi ruangan ICU, yang terdengar hanya suara detak jantung dug...dug...dug...dst......semua suara yang tadinya hingar bingar hilang lenyap tanpa saya sadari.....klakson sopir angkot yang bertubi-tubi karena ingin memaksa seorang penumpang untuk naik walau bukan jurusan yang ingin dinaikinya, atau suara peluit tukang parkir yang menggemparkan seolah-olah sedang memutuskan tendangan pinalti yang sangat menentukan kemenangan dan gengsi suatu negara...atau suara orang ketawa karena ngobrol dengan temannya......tetapi saya coba untuk tetap meneruskan sholat, saya paksakan untuk tidak perduli....

Dengan perlahan tetapi tak mampu dilawan, kepala saya yang tadinya tegak dipaksa menunduk menghadap sajadah karpet masjid....seperti gerakan tukang cukur yang memaksa lembut karena mau mencukur bagian belakang rambut kita......bahu saya ditekan dengan berat tetapi sangat pelan bergerak dengan sendirinya sampai membentuk busur seperti gantungan baju, menggantung dengan sangat santai......seperti seorang komandan yang sedang mengatur posisi prajurit dari samping, berusaha menekan punggung saya untuk tegak dan membiarkan kepala saya tetap menunduk.....kaki saya dipaksa melangkah lebih lebar sedikit meluruskan jari-jari kaki ke arah kiblat dan memaksa lutut saya tegak sampai benar2 lurus....

Semua kejadian itu berlangsung dengan sadar....tetapi saya berusaha untuk membiarkan apa yang terjadi dengan tenang tanpa harus melawan, apalagi merasa takut, karena saya yakin waktu itu, entah apa dan siapa itu telah membuat saya jadi rileks, tenang dan membuat sholat saya jadi khusuk.......nafas saya menjadi berat dan sangat teratur, bacaan saya tanpa saya sadari terbaca ter-eja satu per satu, pelan dan menjadi sangat jelas......perasaan yang ada hanya rileks............sangat santai......dan sama sekali tidak terbesit untuk memikirkan hal yang lain.......waktu bukan lagi mencemaskan.....penat dan suntuk hilang seketika...... rasa syukur meluap-luap hingga seolah-olah berebut tempat dalam dada karena saking banyaknya.......waktu seolah berhenti di situ,.......... ralat terhadap posisi dan gerakan berlangsung terus hingga sholat selesai, posisi kepala waktu ruku’, telapak tangan di lutut, punggung waktu sujut,telapak tangan waktu takbir, dan masih banyak lagi, sangat pelan dan saya biarkan hingga posisi sesuai dengan yang dinginkannya......saya semakin membiarkanya, saya sangat menikmati instruksi-instruksi dengan caranya..... dalam hati saya bertanya “apa demikian sih sikap sholat yang benar?”

.....begitu sampai sholat selesai......

Sudah tidak ada orang di masjid itu, mungkin karena terlalu lama atau apa.....saya tidak tahu kapan orang yang duduk bersila tadi pergi......saya rebahkan badan sambil terlentang....sambil terpejam saya pikirkan apa yang baru saja terjadi....tidak begitu lama, tiba-tiba!.....gerakan itu datang lagi, menekan dengan lembut dahiku ke arah kedua pelipis......sehingga kerutan persis ditengah-tengah dahi benar-benar telah lenyap.....kedua ujung bibir ditekan ke atas ke arah belakang kedua telinga.....sehingga tanpa saya sadari saya telah tersenyum dengan sangat pelan.....dan tiba-tiba berhenti pada tarikan tertentu....sehingga yang tertinggal di bibir saya adalah senyum yang sangat lembut dan tipis.....tetapi berbeda dengan apa yang saya rasakan, saya merasa tersenyum lebar dan sangat hangat......dengan rasa syukur yang luar biasa......

Saya ambil sepatu dan bapak itu sambil tersenyum menyodorkan sepatu saya yang barangkali hanya satu-satunya sepatu yang dititipkan karena memang sudah tidak ada lagi orang yang sholat di masjid itu......saya ambil dan saya mencoba memberikan sedikit imbalan uang atas segala kebaikan yang sebenarnya sangat tidak seimbang.... senyum bapak itu tidak dapat dibayar!......

Seperti seorang pejabat yang sudah ditunggu oleh mobil dan sopirnya....begitu keluar dari halaman masjid sudah ada angkot berhenti yang pintunya persis di depan saya.....saya buka pintu dan duduk di samping sopir karena kebetulan tidak ada orang yang duduk di depan.....sambil masuk angkot dengan ringan dan senyum selalu menghias perasaan saya serta sangat tenang........seperti ketenangan seorang jenderal karena memenangkan perang yang melelahkan telah membuat saya tertidur, layaknya bayi yang baru saja digantikan popoknya......sementara angkot terus melaju tanpa saya sadari.....kantor pos!......begitu yang saya ucapkan lirih ketika bangun dengan menoleh-noleh liar meraba-raba kira-kira sampai dimana....perjalanan setengah jam hingga hampir satu jam tidak terasa telah saya lalui dengan tidur.....kantor pos menandakan saya sudah kelewat dari tempat yang seharusnya saya berhenti dan berganti dengan ojeg ke atas ke arah perumahan...

Perasaan yang sedikit bingung, perasanaan yang kembali bergemuruh, menghitung, menimbang, memperkira, menyesal, terburu-buru, utung, rugi, sakit, capek, ngilu, malem, waktu, massa dan segala jenis satuan telah mendesak-desak dan terus berputar-putar di dalam otak...perasaan saya seperti seember air penuh di waktu pagi yang digoyang-goyang hingga bergolak-golak.....saya kembali lagi dengan angkot yang berlawanan sampai ketempat yang semestinya saya berhenti untuk ganti dengan ojeg....sampai dirumah saya membuka pintu pagar dengan pelan-pelan karena takut membangungkan anak-anak saya yang sedang tidur......dengan sangat cepat dan sudah menjadi kebiasaan saya buka pintu karena memang tidak dikunci, begitu kalau jumat dan kalau tahu saya mau pulang maka istri saya membiarkan pintu rumah tidak terkunci,......

Seperti biasa saya buka sepatu, saya kumpulkan tenaga kembali dengan pelan untuk menempatkan tas dan sepatu pada tempatnya, melepas baju, dan celana dengan sangat pelan karena takut membangunakan anak-anak dan istriku yang sedang tidur, sambil menguras semua benda dari kantong baju dan celana untuk saya letakan di meja...dan tanpa saya sadari saya mendapatkan angka 34 berbentuk potongan mika kecil berwarna hijau bertuliskan tangan dengan spidol hitam....saya mencoba mengingat-ingat benda apa ini, wah ini pasti dari sebuah tempat penitipan tapi dimana?.....saya mulai teringat dan betapa saya menjadi lemas terhadap apa yang baru saja terjadi......mika kecil itu ternyata adalah nomor penitipan sepatu di masjid yang baru satu jam yang lalu saya tinggalkan yang memberikan kenangan dan kenyamanan hati yang begitu dasyat serta pelajaran sholat yang begitu mahal.....nomor itu terbawa dan saya simpan hingga sekarang.....

Saya jadi teringat ayat dalam surat Ar-Rahman surat ke 55 dalam Al-Qur’an..........fabiayyiaalaa irobbikumaa tukdzdzibaan?...........maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?.....

Mungkin itu pula lah Allah SWT mengulang-ulang ayat tersebut hingga 31 kali dan mengakhiri surat tersebut pada ayat ke 78 yang artinya:

.......Maha Agung nama Tuhanmu Yang Mempunyai kebesaran dan karunia.......

Karena begitu gampangnya orang melupakan apa yang menjadi karunia Allah SWT dan menjadi sangat ingkar terhadap nikmat-nikmatnya serta kurang bersyukur.....Ya Allah ampuni dosa-dosaku........

Bandung, 20 Juni 2009
Sebuah kisah nyata

Sunday, April 26, 2009

THE REAL VAMPIRE

Oleh : bu Rumbudi 
Selama seminggu, suamiku menderita demam tinggi, menggigil, badan nyeri semua, mual dan segala gejala demam berdarah dengue. Setelah 3 hari sejak panas itu, ternyata memang dia positif menderita demam berdarah.
Banyak yang bertanya, di mana digigit sang nyamuk aedes aegepty? Tentu saja tidak ada yang tahu, semua hanya menebak-nebak, karena suamiku memang baru pulang dari berbagai kota. Tapi yang jelas, dia menderita DBD.
Ketika demam mencapai 40oC, dia mengigau, rasanya dia sudah tidak kuat menahan sakitnya, rasanya waktunya sudah tinggal sedikit, dan rasanya sang Malaikat maut sedang mulai menjalankan tugasnya. Tetapi karena aku masih bisa berpikir, rasanya itu hanya igauan suamiku di bawah sadarnya. Jangankan waktu sakit dengan setengah kesadaran, ketika sehatpun dia selalu ingat akan dekatnya kematian. Bahwa setiap kita, entah sehat entah sakit, siapapun selalu dekat dengan kematian. Karena itulah, aku tidak terkejut lagi, bahkan aku katakan padanya, banyaklah MEMBACA istighfar dan tahil...mohon ampun, dan memang tidak ada tuhan selain Allah....Allah yang memberi sakit, Allah juga yang memberi kesembuhan.
Ketika suamiku sakit, aku jadi tahu dengan siapa saja dia bergaul. Ibu-ibu majelis ta’lim tempat dia sering menularkan ilmu, bapak-bapak jama’ah masjid Baitul Mattin tempat dia sering shalat berjama’ah, saudara-saudara majelis ta’lim tempat kami mengkaji Qur’an dan Sunnah setiap ahad, tetangga sekitar tempat kami tinggal. Mereka semua sedang menjalankan kewajibannya, sementara suamiku sedang menerima haknya. Kewajiban orang muslim terhadap muslim lain antara lain adalah menjenguk ketika saudaranya sakit. Aku merasakan kasih sayang teman-teman kami, termasuk teman-teman kantorku.
Dari Abu Hurairah, bahwa Rasullullah saw. Bersabda: “Allah Ta’ala akan berfirman pada hari kiamat: ‘Hai anak adam, Aku sakit tapi tidak kau jenguk’! Ujarnya: ‘Ya Tuhanku, bagaimana aku akan menjenguk-Mu, padahal Engkau Tuhan seru sekalian alam?’ Firman-Nya: ‘Tidak tahukah kamu bahwa hambaKu si Anu sakit, tetapi tidak kamu jenguk? Tidak tahukah kamu bahwa seandainya kamu menjenguknya, akan kamu dapati Aku di sisinya? ........” (HR. Muslim)
Ketika suamiku sakit, banyak orang, saudara-saudara kami yang biasanya jarang bahkan mungkin tidak mendoakan, jadi berdoa untuk kesembuhan suamiku. Bahkan doaku, jadi bertambah panjang mohon kesembuhan dari Allah, kesembuhan yang tidak meninggalkan bekas. Itulah kebergantungan makhluk kepada Sang Pencipta.
Ketika suamiku sudah sembuh dari sakit, aku baru tahu ternyata Allah hanya memberi kesempatan sang virus dengue hidup selama 7 hari saja. Setelah itu akan mati sendiri, walaupun tanpa dibunuh dengan obat-obatan sekalipun. Penderita yang mampu melewati 7 hari itu, dia masih punya kesempatan untuk menikmati dunia ini, untuk bertobat kepada Allah, untuk mengaji, untuk badminton, untuk main, dan kegiatan-kegiatan duniawi lainnya. Subhanallah, hanya 7 hari saja sang dengue diberi hidup, tapi kalau tidak mampu bertahan, orang bisa sampai pada ajalnya.
Walau 7 hari hidup dalam darah manusia, ternyata sang dengue ini mampu merusak keping-keping darah manusia, sehingga dia akan kelihatan pucat, lemas, cepat lelah, tidak punya tenaga, lambungnya luka, semua karena darahnya disedot oleh virus dengue ini, layaknya VAMPIR sang pemakan darah. Karena itu aku menyebut si virus dengue ini adalah THE REAL VAMPIRE. Dan suamiku baru saja darahnya disedot oleh the real vampire ini.

Monday, March 16, 2009

I DON'T LIKE MONDAY

Oleh : M. Rum Budi S.

Hampir setiap orang mengatakan “ I Don’t Like Monday” pada saat akan memulai aktivitas setelah berakhir pekan. Setiap hari Senin datang, virus malas itu langsung menyerang semangat seorang pekerja ataupun pelajar. Seakan-akan hari Senin adalah waktu yang membosankan. Hari Senin diidentikkan dengan hari yang melelahkan karena itu berarti kembali kepada rutinitas kerja atau belajar. Sudah menjadi ketentuan umum bahwa setiap pekerjaan yang rutin dan tidak ada variasinya itu memang sangat membosankan. Dan rasa bosan itu yang menimbulkan penyakit malas.

Ada beberapa cara orang dalam menikmati hari liburnya pada saat weekend di hari Ahad dengan cara yang salah, seperti berlebihan dalam makan, minum dan istirahat. Padahal kalau banyak makan,minum, dan tidur itu kandungan lemak badan meningkat dan menyebabkan gerakan otot jadi kaku sehingga akibatnya sifat malas dan lamban akan tumbuh subur. Barangkali ini adalah salah satu sebab Allah dan Rasul-Nya melarang untuk berlebihan dalam makan dan minum. Allah berfirman: “Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) mesjid, makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan”. (QS al-A’raf: 31).

Umar ra berkata, “Jagalah dirimu dari sifat rakus pada makanan dan minuman. Karena, hal itu akan merusak badan, mewariskan penyakit , membuat malas melakukan sholat. Wajib atas kamu menjauhi sifat rakus pada makanan dan minuman, karena hal itu menyehatkan badan dan menjauhi sikap berlebih-lebihan. Allah Subhanallah wata’ala murka atas orang saleh yang gemuk (rakus pada makanan-minuman). Sesungguhnya seseorang tidak akan binasa hingga nafsunya mempengaruhi agamanya”. (Dalam Kitab Kanzul ‘Ummal karangan Ala’uddin) 

Bagi orang mukmin sejati, tidak ada ucapan “ I Don’t Like Monday”, sebab mereka mengetahui arti rentetan hari merupakan ladang bagi kehidupan di akhirat nanti. Mereka adalah para penyuluh ajaran Rasulullah Salallaahu’alaihi wassalam, yang senantiasa menanti hari Senin untuk melaksanakan Puasa Sunnah Senin-Kamis mengikuti jejak Rasul-Nya dalam mencapai ridha Allah. Nabi justru senang ketika hari Senin datang, karena pada hari Senin dan Kamis, ditampakkan amal perbuatan manusia, dan Nabi sangat ingin ketika amal ditampakkan beliau dalam keadaan puasa. Dari Abu Hurairah RA, bahwasanya Nabi SAW bersabda, “Amal-amal ditampakkan (dilaporkan) setiap hari Senin dan Kamis. Maka aku senang manakala amalku ditampakkan sedang aku berpuasa” [HR Ahmad dan Tirmidzi].

Ketika orang lain terjebak dalam keburukan karena malas bekerja di hari Senin, orang yang puasa Senin - Kamis justru menjadi pionir dalam kebaikan dengan bekerja giat sebagai upaya ketaatan dan mendekatkan diri kepada Allah. Apapun pekerjaanya harus diniatkan secara ikhlas dan dijadikan sebagai sarana untuk bertasbih-mendekatkan diri kepada Allah.  

Tidak ada hari yang perlu dibenci, semua orang mempunyai kesempatan yang sama dalam semua hari, entah beramal baik atau buruk, entah masih hidup atau dijemput mati, semua kesempatan itu berada pada hari Senin sampai Ahad, tidak ada hari yang lain. Ada seorang pemuda pernah bertanya kepada Rasulullah Salallaahu’alaihi wassalam, tentang amal harian yang bisa memasukkan seseorang ke surga atau amal harian yang paling disukai Allah, maka Rasulullah bersabda: “Kamu harus banyak sujud kepada Allah, karena sesungguhnya tidaklah kamu melakukan sujud kepada Allah, melainkan Allah meninggikan bagimu satu derajat karenanya dan menggugurkan darimu satu kesalahan“. (HR. Muslim, Abu Daud, dan Nasa’i). Dengan cara memperbanyak sholat sunnah setiap harinya, Insya Allah akan menghantarkan seseorang menuju surga Allah. 

Mudah-mudahan kita tetap terus bersemangat bekerja walaupun hari Senin, dan mohonlah kepada Allah untuk tetap bersemangat beribadah setiap harinya. Rasulullah Salallahu’alaihi wassalam bersabda: “Bersemangatlah, mendekatlah, bergembiralah, dan mohonlah pertolongan kepada Allah di waktu pagi, sore, dan sebagian waktu di akhir malam“ (HR. Bukhari). 




Tuesday, February 10, 2009

LIMA KESEMPATAN UNTUK MENGINGAT ALLAH

bu RumBudi

Ada seorang temenku, non muslim. Dia orang yang super sibuk, sampai-sampai kamipun susah untuk mencari waktu luangnya, hanya untuk ngobrol hal-hal yang ringan tentang keseharian. Pikirannya tercurah untuk pekerjaan, dari waktu yang satu ke waktu yang lain, dan dari tempat yang satu ke tempat yang lain, di luar kota, di luar pulau dan entah ke mana lagi. Tapi sebenarnya dia orang yang ramah, supel, murah senyum, senang berbagi ilmu ataupun pengalaman, cerdas pula, sehingga banyak orang yang merasa respect dengannya.
Seandainya, aku bertanya padanya, dengan kegiatannya yang seabreg begitu, apa yang dia pikirkan ketika bangun tidur di pagi hari? Kayaknya dia akan menjawab, dia berpikir tentang apa yang akan dia kerjakan hari itu, dia lihat agenda yang disimpan di Hpnya, kemudian dengan semangat tinggi dia persiapkan dirinya untuk melewati hari itu dengan kegiatan yang bermacam-macam.
Kemudian kalau aku tanya kembali, apa yang dia pikirkan ketika aku katakan jam 12 siang?
O.. itu waktu makan siang dan istirahat sejenak untuk kemudian bekerja kembali. Dan ketika jam 3 sore, apa yang dia lakukan? Dia masih melanjutkan pekerjaan untuk kemudian pulang sekitar jam 4. Sampai di rumah, jam 6 sore? Waktunya makan malam. Dan jam 7 malam? Istirahat melepas lelah setelah seharian bekerja. Terakhir aku bertanya, tapi hanya dalam hatiku, kapan dia mengingat Tuhannya? Atau dia merasa bahwa hidup ini hanyalah rangkaian waktu demi waktu yang harus diisi dengan bekerja?

Aku mencoba berpikir, maka yang aku dapatkan adalah rasa syukur. Syukur karena aku diberi Petunjuk olehNya untuk menjadi seorang muslim. Ketika bangun di pagi hari, maka yang pertama aku ingat adalah Allah, aku menghadapkan wajahku kepadaNya, dengan Shalat Subuh. Lalu siang hari, ketika kelelahan menyergapku di tempat pekerjaan, maka aku lakukan cooling down untuk kembali mengingat Allah, menghadapkan wajahku kepadaNya, shalat dhuhur. Begitu juga ketika sore, senja dan malam hari, maka aku hadapkan kembali jiwa dan ragaku kepadaNya. Setidaknya ada 5 kesempatan yang diberikan Allah sebagai sarana untuk mengingatNya.
Subhanallah! di tengah padatnya kegiatan, Allah memberi kesempatan untuk mengingatNya, sadar diri bahwa kita memilki Allah.
Firman Allah dalam QS Al Isra;78 “
Dirikanlah shalat dari sesudah matahari tergelincir sampai gelap malam dan (dirikanlah pula shalat) subuh. Sesungguhnya shalat subuh itu disaksikan (oleh malaikat)”, dan QS Taha ;14 “Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku”.
Semestinya kita pergunakan 5 kesempatan itu dengan sadar dan kesungguhan untuk mengingat Allah, agar tidak ada sifat kemunafikan dalam diri kita. Firman Allah QS An-Nisa; 142 “Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah, dan Allah akan membalas tipuan mereka. Dan apabila mereka berdiri untuk shalat mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya (dengan shalat) di hadapan manusia. Dan tidaklah mereka menyebut Allah kecuali sedikit sekali.”

Friday, January 2, 2009

Tahun Baru

Oleh : M. Rum Budi

Pergantian tahun, apakah betul sebagai saat yang istimewa?, perlukah dirayakan?. Bukankah pergantian tahun itu esensinya adalah pergantian detik yang senantiasa kita lalui dengan biasa, tidak ada istimewanya bukan?. Keuntungan apa yang kita dapatkan ketika kita merayakannya? Pesta tahun baru itu bukan kebiasaan orang-orang shaleh. Pesta ulang tahun, pesta musik dan pesta kembang api bukan kebiasaan umat islam yang imannya kuat.

Tahun merupakan rangkaian satuan waktu yang tidak berbeda dengan satuan waktu yang lain seperti detik, menit, hari, minggu, dan bulan. Satuan waktu itu senantiasa bergulir, terus berjalan dan berjalan tanpa henti. Waktu itu secara abadi berjalan ke depan, tak ada yang mundur ke belakang dan senantiasa baru, tidak ada waktu yang usang. Sampai kapan-pun lahun lalu hanyalah kenangan, tahun sekarang adalah kenyataan hidup yang kita miliki, dan tahun depan adalah harapan. Hidup akan terasa berharga bila kita menggenggam waktu dengan baik, sebab hilangnya harta benda dapat dicari lagi dengan kerajinan dan kehematan, sedangkan hilangnya waktu/kesempatan, sekali hilang tetap hilang. Waktu itu laksana pedang yang siap memotong-motong kesempatan diri anda bila hidup anda lengah, maka hidup akan celaka dan barangkali mati terhina dalam penggalan waktu.

Tanda-tanda waktu itu diciptakan Allah supaya kita tahu bahwa manusia itu sesunggguhnya akan merugi dalam hidupnya, apabila tidak menggunakan waktu pada saat apapun juga untuk melakukan amal sholeh, saling menasehati dalam kebenaran dan berpesan dalam kesabaran. Pertanyaannya rugikah kita menjadi manusia tahun lalu dan bagaimana merencanakan tahun depan dengan berbagai amal sholeh dan dakwah untuk mencapai ridho Allah yang dilakukan penuh kesabaran?.

Setiap tahun pasti akan terjadi tahun baru, tetapi sanggupkah kita akan selalu memperbaruhi keimanan? Sebab hilangnya waktu dan iman seseorang pertanda lenyapnya kesempatan meraih kemuliaan. Iman sebagaimana waktu adalah seperti air yang harus ada dalam hidup ini. Dalam setiap tahun dibutuhkan keimanan yang kokoh dan kuat kepada Allah untuk memakmurkan kebijaksanaan hidup. Tanpa iman yang mengakar dalam sanubari, maka hidup akan mudah terombang ambing oleh gelombang keindahan dunia ini yang akan menjauhkan dari rahmat Allah dan membuat kita mudah terperosok ke dalam lembah keburukan/kesesatan.

Bertambah tahun berarti bertambah umur, yang anak-anak menjadi remaja, yang remaja menjadi dewasa dan yang dewasa menjadi tua dan yang tua akan menjadi pikun. Allah berfirman :”Dan barang siapa yang Kami panjangkan umurnya niscaya Kami kembalikan dia kepada kejadian (nya). Maka apakah mereka tidak memikirkan?” (QS Yasin: 68). Seharusnya tahun baru menjadikan sadar bahwa kehidupan ini semakin tua, kiamat semakin dekat, dan janji Allah pasti terjadi. “Adapun orang yang diberikan kitabnya dari sebelah kanannya, maka dia akan diperiksa dengan pemeriksaan yang mudah, dan dia akan kembali kepada kaumnya (yang sama-sama beriman) dengan gembira. Adapun orang yang diberikan kitabnya dari belakang, maka dia akan berteriak: "Celakalah aku", dan dia akan masuk ke dalam api yang menyala-nyala (neraka), sesungguhnya dia dahulu (di dunia) bergembira di kalangan kaumnya (yang sama-sama kafir)”. (QS Al-Insyiqaaq : 7-13).

Boleh jadi di tahun baru ini anda akan kembali kepada Allah, sebab kematian itu tidak mengenal umur, kapan-pun bisa terjadi entah hari ini, esok pagi atau lusa nanti. Panjangnya umur tidak menentukan seseorang masuk surga atau tidak. Tetapi kualitas waktu yang diisi dengan ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya lah yang akan menentukan beratnya amal kebaikan yang akan menjadi kunci keselamatan dan kesuksesan kehidupan akherat nanti. “Dan adapun orang-orang yang berat timbangan (kebaikan) nya, maka dia berada dalam kehidupan yang memuaskan (surga). Dan adapun orang-orang yang ringan timbangan (kebaikan) nya, maka tempat kembalinya adalah neraka Hawiyah”. (QS Al Qari’ah : 6 – 9). Maka bagi umat islam yang kuat imannya menyambut tahun baru bukan dengan berpesta ria sebagaimana orang-orang Yahudi dan Nasrani, tetapi dengan bertaubat kepada Allah dengan bersegera kembali kepada Allah walaupun dosa masa lalu setinggi langit. “Katakanlah: "Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. (QS Az Zumar :53)




Monday, December 22, 2008

IBU

Oleh: M. Rum Budi S.

Kasih ibu kepada beta tak terhingga sepanjang masa, hanya memberi tak harap kembali, di Indonesia sepenggal bait lagu itu sepertinya harus direnungkan ulang setiap hari Ibu tanggal 22 Desember. Kasih ibu itu adalah naluri dan tanggung jawab yang harus diemban secara ikhlas. Seorang ibu itu mempunyai sifat penyayang 70 kali lipat dari seorang ayah. Ibu itu punya kelembutan, sedangkan ayah punya keperkasaan. Tetapi kelembutan ibu di zaman sekarang ini kadang berubah menjadi keperkasaan. Bagaimanapun keadaan yang menuntut seorang ibu bekerja atau berkarier, sehingga menjadikan kelembutan ibu itu semakin lama pudar. Barangkali penyebab utamanya karena seorang ibu di zaman sekarang ini banyak, merasa mempunyai penghasilan lebih sehingga dirasa lebih perkasa dari ayah. Coba amati bagaimana keperkasaan ibu Dr. Srimulyani (Menteri Keuangan RI 2008) dan ibu Dr. Fadhilah Supari (Menteri Kesehatan RI 2008)?. Saya kira kelembutannya dua ibu menteri tadi akan jauh lebih pudar dibandingkan Ibu Anton atau Ibu Taat sebagai Ibu Rumah Tangga. Curahan perhatian ibu kepada anak akan lebih besar apabila ibu itu memang tidak bekerja. Kasih sayang ibu kepada anaknya lebih terasa apabila ibu justru menganggur. Ibu adalah makhluk Allah yang fitrahnya memiliki kelemah-lembutan dan kasih sayang karena itu mereka punya rahim. Dari rahim para ibulah lahir dan tumbuh anak-anak shaleh dan shalihah.

Wanita bila sudah bersuami, menurut konsep agama memang sebaiknya berperan sebagai ibu sebaik-baiknya. Biarkan ayah saja yang berfungsi dalam mencari nafkah, karena itulah kelebihan yang Allah berikan kepada laki-laki. Berapapun penghasilannya tidak jadi soal, karena rejeki sudah ada yang mengatur. Hanya saja bagi para ayah, bekerja itu merupakan kewajiban, sehingga bila tak dilakukan akan dapat dosa. Bagaimana dengan Ibu yang tetap bekerja? Itu hanya kebolehan, sekedar membantu pendapatan ayah. Tugas utama ibu tetap sebagai pendamping ayah, bukan untuk berperan sebagai ayah. Seorang ibu adalah pemimpin rumah tangganya yang harus banyak berkecimpung di dalam rumah, bukan pemimpin keluarga yang harus banyak beraktifitas di luar rumah atau di tengah masyarakat. Ibu yang betah di dalam rumah jauh lebih mulia dari pada ibu yang sering ngrumpi di luar rumah. Bukankah ibu yang shalihah itu adalah sebaik-baik perhiasan dunia?.
Rasullullah Shalallahu ’alaihi wassalam pernah bersabda : “ada tiga hal yang sangat aku senangi di dunia ini, yaitu: wangi-wangian; istri shalihah; dan ketenangan saat shalat. Ketika itu beliau sedang duduk dengan para sahabatnya. Tiba-tiba Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiallahu’anhu berkata :” Benar engkau, ya Rasulullah, aku mempunyai tiga hal lainnya, yaitu: senang melihat wajah Rasulullah, menafkahkan hartaku menurut kemauan Rasulullah, dan senang putriku berada di bawah pemeliharaan Rasulullah”. Umar radhiallahu’anhu lantas berkata: “ benar engkau ya Abu Bakar, akupun senang akan tiga hal lainnya, yaitu: mengajak kepada kebaikan, mencegah kemungkaran, dan berpakaian sederhana.” Utsman radhiallahu’anhu pun menyahut:” benar engkau wahai Umar, akupun menyukai tiga hal lainnya, yaitu: mengenyangkan orang yang sedang lapar, memberi pakaian yang tak punya busana, dan membaca Al-Quran.” Selanjutnya Ali radhiallahu’anhu juga berkata:” benar engkau wahai Ustman, aku juga mencintai tiga hal lainnya, yaitu: melayani tamu, puasa pada musim panas, dan memukul musuh dengan pedang.” (dalam kitab Nashai-hul ‘ibaad).
Banyaknya ibu-ibu yang menjadi wanita karier saat ini harusnya menjadi keprihatinan kita semua. Kalau mau menyadari ibu-ibu karier itu disamping mempersempit lapangan kerja bagi bapak-bapak maka sesungguhnya akan banyak menimbulkan kesusahan ibu-ibu sendiri yang luar biasa. Coba ibu-ibu rasakan dan renungkan firman Allah berikut ini. :“……….. Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara yang makruf. Seseorang tidak dibebani melainkan menurut kadar kesanggupannya. Janganlah seorang ibu menderita kesengsaraan karena anaknya dan juga seorang ayah karena anaknya, dan waris pun berkewajiban demikian. ……... Bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah bahwa Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan”. (QS Al-Baqarah: 233).
Kalau ibu-ibu bekerja hanya alasan karena membahagiakan anak itu namanya kebalik, seharusnya anak-anak dan suami ibu yang membahagiakan ibu. Sekali lagi bukan kewajiban para ibu untuk memberi pakaian dan makanan kepada para anaknya, tetapi ayahnya yang berkewajiban. Muliakan para ibu, dengan memberikan haknya untuk tidak bekerja. Biarkan anaknya yang gantian memberikan nafkah kepada ibunya.
“Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan "ah" dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia “. (QS Al-Israa’: 23).




Wednesday, November 26, 2008

Mengingat Mati

Oleh: M. Rum Budi S.

  • Dari ‘Abdullah bin ‘Umar RA ía berkata : Rasulul!ah SAW memegang pundak saya lalu bersabda, “Jadilah kamu di dunia ini seolah-olah kamu orang asing atau orang yang sedang di dalam perjalanan” Dan Ibnu Umar berkata, “Apabila kamu berada di waktu sore, Janganlah kamu menunggu waktu pagi. Dan apabila kamu berada di waktu pagi, maka janganlah kamu menunggu waktu sore. Beramallah di waktu sehatmu untuk simpanan di waktu sakitmu, dan beramallah di waktu hidupmu untuk simpanan ketika matimu”. [HR. Bukhari].
  • Dari Mu’adz RA, ía berkata Aku pernah berkata, “Ya Rasulullah, berilah washiyat kepadaku” Beliau bersabda, ‘Sembahlah Allah seolah-olah kamu melihat-Nya, hitunglah dirimu termasuk orang-orang yang akan mati dan ingatlah kepada Allah di waktu tenang maupun di waktu bergejolak. Apabila kamu terlanjur melakukan keburukan maka iringilah dengan melakukan amal kebaikan, rahasia dengan rahasia dan terang-terangan dengan terang-terangan. [HR. Thabrani].
  • Dari Abdullah bin Umar RA, Ia berkata : Rasulullah SAW pernah melewati saya, pada waktu itu saya sedang memperbaiki tembok saya dan ibu saya. BeIiau bersabda, “Apa ini wahai ‘Abdullah ?“ Aku menjawab, “ya Rasulullah, ini sudah rusak, maka dari itu kami lalu memperbaikinya” BeIiau bersabda, “Urusan (akhirat) itu Iebih cepat dari pada yang demikian itu”. Dan dalam satu riwayat, dia berkata Rasuluilah SAW pernah melewati kami pada waktu itu kami sedang memperbaiki rumah kami yang rusak. Lalu beiiau bertanya, “Apa ini ?“ Maka kami menjawab, “Rumah kami yang sudah rusak, maka kami memperbaikinya” Beliau bersabda, “Tidaklah aku melihat urusan (akhirat) itu kecuali lebih cepat dari yang demikian itu”. [HR. Abu Dawud, Tirmidzi, ia berkata hadits hasan shahih, Ibnu Majah dan Ibnu Hibban].
  • Dari Abdullah, dari Nabi SAW, beliau bersabda, “Surga itu lebih dekat kepada seseorang diantara kalian dari pada tali sandalnya, sedang neraka juga seperti itu”. [HR. Bukhari]
  • Dari Sa’ad bin Abu Waqqash RA, Ia berkata: Seorang laki-laki datang kpd Nabi SAW dan berkata, “Berilah washiyat kepadaku ya Rasulullah“. Beliau bersabda, “Wajib atasmu merasa cukup dari apa-apa yang ada di tangan manusia. Dan hati-hatIlah kamu berlaku rakus, karena yang demikian itu kefakiran yang ada, dan laksanakanIah shalatmu sedangkan kamu akan berpisah (dengan dunia) dan hati-hatllah kamu dan melakukan kesaIahan-kesalahan” [HR. Hakim dan Baihaqi. Hakim berkata, shahih sanadnya]
  • Dari Abu Hurairah RA, bahwasanya Rasulullah SAW bersabda, “Bersegeralah kalian untuk beramal sebelum datangnya tujuh hal: 1. Tidaklah kamu menunggu kecuali kemelaratan yang melupakan, 2. kekayaan yang menyebabkan melampaul batas, 3. sakit yang merusakkan, 4. tua yang melemahkan pikiran, 5. mati yang datangnya tak terduga, 6. dajjal, yaltu seburuk-buruk yang ditunggu, 7. Hari qiyamat, karena hari qiyamat itu sangat dahsyat lagi pahit”. [HR. Tirmidzi, Ia berkata hadits hasan].
  • Dari Abu Hurairah RA, bahwasanya Rasulullah SAW bersabda, ‘Bersegeralah kamu sekalian untuk beramal, sebelum datangnya saat-saat kekacauan seperti memotongnya malam yang gelap, di waktu pagi seseorang dalam keadaan beriman dan di waktu sore menjadi kafir. Di waktu sore seseorang dalam keadaan beriman dan di waktu pagi menjadi kafir. Dia menjual agamanya dengan harta benda dunia”. [HR. Muslim].




Friday, November 21, 2008

Tabrak Lari

Oleh M. Rum Budi S.

Tetangga saya meninggal dunia karena kasus tabrak lari. Sampai sekarang si penabrak belum ditemukan. Mungkin juga kemana rimbanya si penabrak sulit ditemukan. Karena anaknya yang mati itu tidak mungkin akan hidup lagi , maka keluarga korban hanya pasrah kepada Allah dan mencoba menerima kenyataan ini. Kematian memang takdir Allah yang tak bisa ditolak. Umur manusia itu berada dalam genggaman Allah. Terserah Allah mau menggambil nyawa manusia kapan saja, karena memang semua milik Allah dan akan kembali kepada Allah. Menuju kematian itu memang berbilang sebab. Kalau sudah waktunya atau gilirannya tak ada yang bisa menolak, walaupun mereka di dalam dinding yang kokoh. 

Allah berfirman :”Di mana saja kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, kendati pun kamu di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh, dan jika mereka memperoleh kebaikan, mereka mengatakan: "Ini adalah dari sisi Allah", dan kalau mereka ditimpa sesuatu bencana mereka mengatakan: "Ini (datangnya) dari sisi kamu (Muhammad)". Katakanlah: "Semuanya (datang) dari sisi Allah". Maka mengapa orang-orang itu (orang munafik) hampir-hampir tidak memahami pembicaraan sedikit pun?” (QS. An Nisaa : 78).

Apakah si penabrak tahu kalau yang ditabrak itu telah mati?, mungkin nggak tahu, sehingga mereka tenang-tenang saja karena merasa tidak bersalah. Tetapi sesungguhnya Allah akan meminta pertanggung jawaban setiap apa yang diperbuat oleh manusia. Dan setiap kejadian apa saja yang terjadi dibumi ini semua atas ijin Allah. “Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang gaib; tak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir biji pun dalam kegelapan bumi dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lohmahfuz).” (QS. Al An’aam : 59).

Jadi atas ijin Allah jugalah kalau sampai sekarang si penabrak belum ketahuan. Allah memang telah mengijinkan atau menentukan bahwa dalam suatu kejadian tabrakan, memungkinkan semua orang bisa menempuh jalan/usaha untuk lari dari tanggung jawab. Manusia memang diberi pilihan untuk menempuh jalan kebaikan (ketaqwaan) atau menempuh jalan kesesatan (fasik). Barangsiapa menempuh jalan ketaqwaan (bertanggung jawab atas tabrakan tadi), maka termasuk orang yang beruntung karena besok di akherat pertanggung jawabannya lebih ringan. Tetapi kalau ia menempuh jalan kefasikan (lari dari tanggung jawab, padahal jelas-jelas dia yang nabrak ), maka rugilah karena pertanggung jawabanya di akherat nanti lebih berat. Padahal kesenangan dan kesengsaraan di dunia ini hanya sesaat dibandingkan dengan kesenangan dan kesengsaraan di akherat.

Firman Allah: “maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya, sesungguhnya beruntunglah orang yang menyucikan jiwa itu, dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya. (QS, Asy Syam : 8-10).

Termasuk diberi pilihan oleh Allah, orang yang sebenarnya menyaksikan kasus tabrak lari, tetapi para saksi lebih bersikap diam dan tidak mau melaporkan kepada Polisi. Sikap masyarakat memang cukup beralasan karena sudah banyak kejadian si pelapor malah diperas Polisi. Memang masyarakat malas berhubungan dengan Polisi, katanya tidak ada untungnya sama sekali berurusan dengan Polisi, lebih baik dihindari karena lebih banyak tidak bermanfaat. Walaupun tidak seluruhnya benar Oknum Polisi melakukan pemerasan (premanisme), tetapi kesan umum masyarakat memberi citra kepada Polisi memang jelek.

Semua sudah terjadi. Nanti di akherat semua akan dimintai pertanggung jawaban apa yang telah diperbuatnya saat di dunia ini. Tidak ada syafaat dan tidak ada pertolongan kecuali syafaat dan pertolongan Allah. Dan tidak ada yang dirugikan, Maha Suci Allah Tuhan Yang Maha Adil dan Maha Bijaksana. “Dan jagalah dirimu dari (`adzab) hari (kiamat, yang pada hari itu) seseorang tidak dapat membela orang lain, walau sedikit pun; dan (begitu pula) tidak diterima syafa`at dan tebusan daripadanya, dan tidaklah mereka akan ditolong” (QS. Al Baqarah : 48).   


Wednesday, November 19, 2008

Tiada Hari Tanpa Makan

Oleh : M. Rum Budi S.

Mengapa kita nggak pernah bosan dengan namanya ’makan’?. Sebab perut ini selalu saja lapar. Tanpa makanan, kita akan sulit melakukan aktivitas sehari-hari, karena makanan adalah sumber energi yang dapat membantu pertumbuhan badan dan otak. Setiap makanan menpunyai gizi yang berbeda-beda dalam kandungan protein, karbohidrat, lemak, dan lain-lain. Karena makanan mempunyai peranan strategis dalam perjalanan hidup ini, maka agama mengatur batas halal-haramnya supaya bermakna ibadah sehingga bernilai dalam kehidupan akherat nanti.

Setiap makanan pasti berasal dari hewan dan tumbuhan, kecuali Sumanto....kaliiiii. Untuk makanan yang berasal dari hewan disebut makanan hewani. Sedangkan yang berasal dari tumbuhan disebut makanan nabati. Asal mulanya setiap makanan itu halal, kecuali yang dilarang. Silahkan saja mau makanan apapun prinsipnya Allah menyediakan untuk manusia, ”Dia-lah Allah, yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu .....” (QS Al-Baqarah: 29). Tapi kalau hidup ini hanya untuk beribadah kepada Allah jangan sekali-kali makan beberapa makanan yang dilarang oleh Allah.

Allah berfirman: ” Hai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rezeki yang baik-baik yang Kami berikan kepadamu dan bersyukurlah kepada Allah, jika benar-benar hanya kepada-Nya kamu menyembah. Sesungguhnya Allah hanya mengharamkan bagimu bangkai, darah, daging babi dan binatang yang (ketika disembelih) disebut (nama) selain Allah. Tetapi barang siapa dalam keadaan terpaksa (memakannya) sedang ia tidak menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas, maka tidak ada dosa baginya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang ” (QS Al-Baqarah: 172-173).

Hamba Allah dimana-pun dan siapa-pun juga di dunia ini, secara prinsip sejak Nabi Adam ’alaihissalam sampai akhir jaman nanti, tetap saja tiada hari tanpa makan, hanya kebutuhannya setiap orang di dunia ini berbeda. Orang yang tinggal di daerah dingin seperti Norwegia dan Swedia memerlukan banyak makanan untuk membantu menghangatkan dirinya agar suhu tubuhnya tetap normal. Sedangkan bagi orang yang tinggal di daerah tropis, seperti Indonesia dan Malaysia, mereka justru membutuhkan sedikit makanan bila dibandingkan dengan minuman. Demikian juga perbedaan dalam selera makanan dan cara makan orang di setiap negara. Persoalannya, coba amati bagaimana selera dan cara makan penduduk negeri-negeri yang mayoritas penduduknya orang kafir. Barangkali yang mengherankan justru makanan dan minuman yang dilarang oleh Allah malah dimakan dan diminum. Sudah jadi ketetapan Allah, bahwa orang kafir itu senantiasa mengingkari ayat-ayat-Nya.

Apapun makanannya, Allah berfirman ”Hai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan; karena sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagimu”. (QS Al-Baqarah: 168). Dan apapun minumanya Rasulullah Sallahu’alaihi wasalam bersabda : ”Segala macam minuman yang memabukan (sedikit atau banyak), maka hal itu hukumnya haram (terlarang)”. (HR Bukhari – Muslim).

Tiada hari tanpa makan, maka jadikanlah makan itu sebagai sarana menuju hidup sehat di dunia maupun di akherat nanti. ”Jauhilah kamu makan dan minum yang berlebihan, karena yang demikian dapat merusak kesehatan tubuh, menimbulkan penyakit dan memberi kemalasan (kesulitan) ketika sholat. Dan hendaklah bagimu bersikap sedang (cukupan) karena yang demikian akan membawa kebaikan pada tubuh, dan menjauhkan dir dari sikap berlebihan”. (HR. Bukhari).