Adanya rizki manusia dalam kehidupan ini sudah ditentukan oleh Pemberi rizki yaitu Allah subhanahu wata’ala sebagai “Al-Razzaq”, yang Maha Pemberi Rizki. Allah-lah pencipta, pemilik satu-satunya dan penjamin semua jenis rizki makhluk-makhluk-Nya. Itulah Tauhid Rububiyyah sebagaimana Allah berfirman : Apakah mereka yang membagi-bagi rahmat Tuhanmu? Kami telah menentukan antara mereka penghidupan mereka dalam kehidupan dunia, dan kami telah meninggikan sebahagian mereka atas sebagian yang lain beberapa derajat, agar sebagian mereka dapat mempergunakan sebagian yang lain. Dan rahmat Tuhanmu lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan. (QS Az-Zukhruf: 32).
Wednesday, September 21, 2016
rizki itu given
Adanya rizki manusia dalam kehidupan ini sudah ditentukan oleh Pemberi rizki yaitu Allah subhanahu wata’ala sebagai “Al-Razzaq”, yang Maha Pemberi Rizki. Allah-lah pencipta, pemilik satu-satunya dan penjamin semua jenis rizki makhluk-makhluk-Nya. Itulah Tauhid Rububiyyah sebagaimana Allah berfirman : Apakah mereka yang membagi-bagi rahmat Tuhanmu? Kami telah menentukan antara mereka penghidupan mereka dalam kehidupan dunia, dan kami telah meninggikan sebahagian mereka atas sebagian yang lain beberapa derajat, agar sebagian mereka dapat mempergunakan sebagian yang lain. Dan rahmat Tuhanmu lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan. (QS Az-Zukhruf: 32).
Friday, August 19, 2011
Bagian Korupsi Kisah Qorun
Allah Swt. Telah memberi petunjuk berupa pelajaran tentang sejarah Qorun: seorang yang hidup di Jaman Nabi Musa, sebagai bendahara negara (kerajaan), tetapi dia mengambil uang negara bersama Fir'aun dan teman-temannya untuk melanggengkan kekuasaan Fir'aun dalam menindas perekonomian rakyatnya. Berbagai kritik dari para moralis telah disampaikan kepada Qorun, tetapi justru Qorun tidak bergeming sama sekali, bahkan Qorun bembanggakan hartanya dengan show di jalan, menunjukkan kepada rakyatnya seakan-akan Qorun tidak malu bahwa harta yang diperolehnya itu berasal dari Korupsi yaitu mengambil uang Negara untuk kepentingan dirinya dan golongannya. Akibatnya Qorun dan Rumahnya telah dibenamkan Oleh Allah Swt kedalam bumi. Maka selesailah babak Kehidupan lembaran Qorun di Jaman Nabi Musa. Kisah Qorun memang sudah berlalu tapi pengikutnya banyak sekali sampai akhir jaman.
Perhatikan Firman Allah Swt. tentang kehidupan Qorun itu di dalam Al-Qur'an Surat Al-Qasas ayat 76 s/d 81 (QS 28/76-81).
" Sesungguhnya Qorun adalah termasuk kaum Musa, maka berlaku aniaya terhadap mereka. Dan Kami telah menganugerahkan kepadanya perbendaharaan harta yang kunci-kuncinya sungguh berat dipikul oleh sejumlah orang yang kuat-kuat. Ingatlah ketika kaumnya berkata kepadanya: " janganlah kamu terlalu bangga; sesungguhnya Allah Swt tidak menyukai orang-orang yang terlalu membanggakan diri". (QS 28/76).
" Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah swt kepadamu (kebahagiaan) negeri akherat dan janganlah kamu lupakan bahagiaanmu dari kenikmatan duniawi dan berbuat baiklah kepada orang lain sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan dimuka bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan. (QS 28/77).
Qarun Berkata: "sesungguhnya aku hanya diberi harta itu karena ilmu yang ada padaku". Dan apakah ia tidak mengetahui, bahwasanya Allah telah membinasakan umat-umat sebelumnya yg lebih kuat dari padanya dan lebih banyak mengumpulkan harta? dan tidaklah perlu ditanya kepada orang-orang yang berdosa itu tentang dosa-dosa mereka. (QS 28/78).
Maka keluarlah Qorun kepada kaumnya dalamkemegahannya. Berkatalah orang-orang yang menghendaki kehidupan dunia: " Moga-moga kiranya kita mempunyai seperti apa yang telah diberikan kepada Qorun; sesungguhnya ia benar-benar mempunyai keberuntungan yang besar". (QS 28/79).
Berkatalah orang-orang yang dianugerahi ilmu:"kecelakaan yang besar bagimu, pahala Allah adalah lebih baik bagi orang-orang yang beriman dan beramal saleh, dan tidak diperoleh pahala itu kecuali oleh orang-orang yang sabar". (QS 28/80).
Maka kami benamkanlah Qorun beserta rumahnya kedalam bumi. Maka tidak ada baginya suatu golonganpun yang menolongnya terhadap azab Allah. dan tidaklah ia termasuk orang ang dapat membela dirinya. (QS 28/81).
Di Jaman Modern di Indonesia dimana saya hidup ada sederetan lembaran kisah dari perulangan lembaran korupsi Qorun, yaitu lembaran kisah Edy Tansil, Gayus, sampai Nazarudin. Dan saya yakin lembaran korupsi Edy Tansil, Gayus, dan Nazarudin merupakan lembaran kisah yang telah, sedang dan akan selalu diikuti oleh berjuta-berjuta orang pengikutnya yang hidupnya berorientasi pada dunia sebagaimana digambarkan dalam QS 28/79 tadi.
Bukankah hidup dengan limpahan harta korupsi itu senantiasa berakhir dengan ditenggelamkam Rumah Pelaku Korupsi itu ke Rumah Penjara. Belum nanti kalau pelaku korupsi itu kemudian dihadapkan pada pengadilan Akherat. Apakah tidak cukup untuk dipirkannya. Hidup memang pilihan, tetapi mengapa kita tidak memilih jalan Allah, sehingga kita tidak dibinasakan Allah di dunia dan di Akherat.
Tuesday, June 29, 2010
Sesama Manusia, Bolehkah Saling Merendahkan?
Ibrahim, sang Nabi yang mengajarkan Tauhid untuk pertama kali, bukan berasal dari keturunan orang yang taat kepada Sang Pencipta yang Esa. Ayahnya adalah penyembah berhala.
Dan (ingatlah) di waktu Ibrahim berkata kepada bapaknya Aazar: "Pantaskah kamu menjadikan berhala-berhala sebagai tuhan-tuhan? Sesungguhnya aku melihat kamu dan kaummu dalam kesesatan yang nyata". [6:74]
Nuh, Nabi yang dikatakan gila oleh kaumnya karena membuat perahu di puncak gunung, memiliki anak yang tidak taat kepada Allah yang Esa.
Dan bahtera itu berlayar membawa mereka dalam gelombang laksana gunung. Dan Nuh memanggil anaknya sedang anak itu berada di tempat yang jauh terpencil: "Hai anakku, naiklah (ke kapal) bersama kami dan janganlah kamu berada bersama orang-orang yang kafir." [11:42]
Anaknya menjawab: "Aku akan mencari perlindungan ke gunung yang dapat memeliharaku dari air bah!" Nuh berkata: "Tidak ada yang melindungi hari ini dari adzab Allah selain Allah (saja) Yang Maha Penyayang". Dan gelombang menjadi penghalang antara keduanya; maka jadilah anak itu termasuk orang-orang yang ditenggelamkan. [11:43]
Luth, Nabi yang kaumnya lebih memilih homoseks, memiliki istri yang tidak mau menngikuti ajakannya untuk taat kepada Allah.
Kemudian Kami selamatkan dia (Luth) dan pengikut-pengikutnya kecuali istrinya; dia termasuk orang-orang yang tertinggal (dibinasakan).[7:83]
Allah membuat istri Nuh dan istri Lut perumpamaan bagi orang-orang kafir. Keduanya berada di bawah pengawasan dua orang hamba yang shaleh di antara hamba-hamba Kami; lalu kedua istri itu berkhianat kepada kedua suaminya, maka kedua suaminya itu tiada dapat membantu mereka sedikit pun dari (siksa) Allah; dan dikatakan (kepada keduanya); "Masuklah ke neraka bersama orang-orang yang masuk (neraka)" [66:10]
Asiah, istri Fir'aun adalah istri yang taat kepada Allah walaupun dia hidup dalam lingkungan Fir'aun yang super sombong karena menolak keberadaan Allah, bahkan Fir'aun mengaku sebagai tuhan yang bisa mennghidupkan dan mematikan. Asiah rela disiksa suami-nya demi mempertahankan keimanannya. Asiah berdoa untuk dibangunkan rumah di surga, dan Allah mengabulkan.
Dan Allah membuat istri Fir'aun perumpamaan bagi orang-orang yang beriman, ketika ia berkata: "Ya Tuhanku, bangunlah untukku sebuah rumah di sisi-Mu dalam surga dan selamatkanlah aku dari Fir'aun dan perbuatannya dan selamatkanlah aku dari kaum yang dzalim",[66:11]
Sesungguhnya keturunan, pasangan hidup, atau orang tua tidak bisa menjamin dapat memberikan kualitas keimanan yang sama. Masing-masing orang akan bertanggung jawab sendiri-sendiri atas apa yang telah diperbuatnya. Tidak ada yang bisa menolong kecuali Pertolongan Allah, pada hari pembalasan nanti.
Lalu, apakah kita akan bangga karena dilahirkan oleh orang tua yang berdarah "biru", atau berharta "banyak", berotak cerdas?
Apakah kita akan bangga karena memiliki pasangan hidup seorang "da'i", 'ulama, atau kyai?
Apakah kita akan bangga karena memiliki anak2 yang pandai mengaji, tapi shalatnya banyak absen-nya?
Apakah kita bangga dengan gelar pendidikan yang telah kita raih?
Apakah kita bangga dengan atribut2 duniawi???
Seringkali KEBANGGAAN itu membuat kita merasa lebih tinggi derajatnya dari pada orang lain....
Manusia sering membuat kualifikasi untuk membedakan derajat sesama-nya..
Sementara Sang Pencipta-lah yang lebih mengetahui kualitas ciptaan-Nya...
Sunday, December 20, 2009
Umat Islam Harusnya Terdepan Dalam Anti Korupsi
Beberapa upaya telah ditempuh untuk membrantas korupsi , saat ini dilakukan oleh beberapa institusi: Tim Tastipikor (Tindak Pidana Korupsi), KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi), Kepolisian, Kejaksaan, BPKP, Lembaga non-pemerintah: Media massa Organisasi massa (mis: ICW). Sesungguhnya bila dibandingkan dengan Era Orde Baru, pada Zaman Reformasi ini pemberantasan korupsi di Indonesia sudah sangat berkembang, namun hingga kini hasilnya belum menunjukkan titik terang, mungkin karena sumber oknum korupsi justru berada di dalam institusi penegak hukum (Kepolisian dan Kejaksaan). Hal itu yang membikin pemberantasan korupsi susah diuraikan. Mungkin yang paling tepat pemberantasan korupsi itu dimulai dari diri sendiri.
Tanggal 9 Desember telah ditetapkan sebagai hari anti korupsi se dunia. Sebagai orang muslim harus menanggapi sebagai aksi gerakan moral yang cukup baik untuk memulai mengetuk pada diri sendiri, dan terus menjaga kebenciannya terhadap korupsi. Di dalam diri harus ditanamkan betul-betul bahwa korupsi itu pertanggung jawaban diakherat nanti itu sangat berat, dan dalam hati sorang mukmin harus dipatrikan kebenciannya terhadap korupsi, sebagaimana bencinya bila dicampakkan ke neraka .
Karena korupsi itu akan merusak tatanan akhlak bangsa , maka seharusnya seorang muslim secara terus menerus menasehatkan kepada diri sendiri, kelurga dan bangsa ini untuk berjihad melawan korupsi. Sudah menjadi pemahaman orang banyak bahwa korupsi di Indonesia ini sudah menjadi penyakit kronis. Dalam seluruh penelitian perbandingan korupsi antar negara, Indonesia selalu menempati posisi paling rendah. Karena korupsi di Indonesia berkembang secara sistemik, sehingga masyarakat Indonesia (mungkin termasuk orang muslim) menganggap bahwa korupsi bukan lagi merupakan suatu pelanggaran hukum, melainkan sekedar suatu kebiasaan. Dengan demikian mata hati bangsa ini seolah-olah buta karena tidak bisa membedakan korupsi itu benar atau salah, padahal umat Islam hampir 88% dari penduduk di Indonesia, yang seharusnya mengenal betul bahwa korupsi suatu kesalahan besar.
Berdasarkan penilaian Lembaga Dunia, justru Negara yang tidak terkorupsi itu malah Negara Denmark yang menurut catatannya Negara Ateis. Oleh karena itu mengacu pada penilaian Lembaga Dunia itu, maka tidak ada kaitan antara agama seseorang dengan korupsi. Bagaimana dengan Orang Islam yang diciptakan terbaik ditengah-tengah masyarakat dunia, kok masih ada yang melakukan korupsi?. Islam itu bukan identitas lho, tapi Islam itu Din (tuntunan hidup di dunia) yang harus diikuti umatnya. Dengan demikian walaupun ada orang mempunyai identitas islam kalau korupsi berarti belum sempurna memenuhi tuntunan Din islam. Menurut aturannya memeluk Din Islam ini harus kafah, sehingga sebagai umat islam yang kuat dan baik mari memberantas korupsi dengan sungguh-sungguh dimulai dari diri sendiri mudah-mudahan berpengaruh luas terhadap Bangsa Indonesia yang mayoritas umat islam. Sudah saatnya umat islam menjadi garda paling depan dalam anti korupsi.
Pada jari anti korupsi ini mari kita renungkan kembali ayat –ayat Al-Quran sebagai berikut:
QS 3/ 110. Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma`ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka; di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik.
QS 3/104. Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma`ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung.
QS 2/ 208. Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhannya, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu.
Friday, September 25, 2009
Hari Kemenangan Idul Fitri
Jadi kemenangan idul fitri itu seharusnya diartikan sebagai awal dari bentuk nyata suatu tindakan atau amaliyah nilai-nilai didikan Allah di bulan puasa untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari sehingga mendatangkan ampunan Allah. Karena bagi orang-orang mukmin ampunan Allah adalah anugerah terbesar yang diberikan kepada manusia walaupun orang-orang kafir senantiasa membencinya. Rasulullah salallahu’alaihi was salam (saw) bersabda: “Kecewa dan merugi orang yang berkesempatan (hidup) pada bulan romadhon tetapi tidak terampuni dosa-dosanya” (HR Ahmad).
Tidak ada kata terlambat untuk mencapai ampunan Allah, karena Allah Maha Pengampun dan Maha Menerima Taubat. Sampai dijelaskan oleh Nabi Muhammad saw: “Allah menerima taubat seseorang sebelum nafas sampai di tenggorokan “. Mumpung masih ada kesempatan hidup seorang mukmin seharusnya menjadikan idul fitri itu sebagai hari kemenangan untuk bersegera bertaubat kepada Allah, dengan meningkatkan dan memperbaiki hubungan vertikal dengan Allah dan hubungan horisontal dengan manusia. “Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa, (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang lain. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.” (QS Ali Imran 133 -134).
Kembali kepada Allah pada suata saat kematian nanti dengan mendapat ampunan Allah sehingga tanpa dosa sebagaimana manusia lahir pertama kali di bumi itulah sesungguhnya hari kemenangan sejati. Dan kematian chusnul khotimah itu hanya milik orang-orang mukmin yang melakukan Taubatan Nasuha, yaitu taubat yang bener-bener taubat. Bukan taubat yang main-main sebagaimana para artis sinetron yang pada saat bulan puasa seperti taubat tapi sesudahnya kembali kepada kesesatan.
Saturday, July 25, 2009
Ini Hari Jumat Tapi Saya Tidak Takut
Biasa hari jumat.....hari yang selalu saya tunggu karena hari itu berati saya bisa pulang ke bandung bertemu kembali dengan istri dan anak-anakku, setelah sejak senin saya tinggal ke jakarta dan harus bergelut dengan pekerjaan kantor yang sangat melelahkan, apalagi matahari jakarta tak pernah merasa kasian sedikitpun kepada siapa saja yang ada dibawahnya....dan biasa juga kalau pulang bandung saya selalu menggunakan travel jakarta bandung yang sudah menjadi langganan....antrian dengan sederet daftar tunggu yang kadang sangat panjang sering terjadi pada weekend seperti ini....kebetulan waktu itu saya mendapat pemberangkatan yang tidak terlalu malem sekitar jam lima sore dari satu shuttle point di jakarta.Perjalanan sangat pelan dengan, biasa....., kepadatan dan kerumitan jalanan jakarta pada jam pulang kerja...begitu sangat lamban hingga untuk mencoba tidurpun menjadi sangat susah...dengan bayangan betapa lamanya saya harus sampai ke bandung dengan kondisi jalanan yang begini...kadang menjadi marah, entah pada siapa, tapi yang jelas perasaan itu mengusik kantuk dan membuat mata membelalak dengan pikiran melayang-layang yang menyebabkan semua persoalan malah bermunculan dan meminta dipecahkan dengan paksa......tapi segala keterpaksaan tak pernah menghasilakan apa-apa.....betapa suntuk dan penatnya semua beban itu terasa.....
Sampai di bandung sudah agak malem sekitar jam setengah sembilan....saya harus turun dari travel di tempat dimana saya biasa berganti dengan angkot yang membawa saya menuju jalan pulang....bersama dengan dua penumpang yang lainnya kami turun di tempat yang sama. Dengan segala kegesitan bak seorang prajurit di medan perang mereka dengan sigap berjalan hampir berlari ke arah yang tanpa saya ketahui hilang ditelan angin yang kebetulan malem itu amat dingin....ah biar saja saya tidak perduli, yang saya pikirkan adalah dapet angkot trus pulang....tapi entah kenapa lama sekali sang jagoan belum nongol-nongol juga....dengan gelisah saya melongok, merokok, melamun dan entah kenapa saya menengok kebelakang dan........
Disitu saya melihat masjid yang berdiri tenang seperti tidak tersenyum tetapi juga tidak kelihatan arogan....kalem dan sangat bersih....tidak banyak tanaman, semua polos dan cuma ada sepetak rumput tetapi sangat terawat, datar dan sangat hijau.......mungkin karena memang sudah malem untuk ukuran orang sholat isa’ hingga sangat sepi, cuma ada satu orang di dalam masjid yang duduk bersila, saya tidak tahu persis apa yang sedang dilakukannya karena saya berada di luar.....
Andai saja sekompi tentara berlompatan dari truk anti huru hara persis di depan saya dan menodongkan senjata mereka ke arah saya untuk memaksa melakukan hal lain selain naik angkot mungkin saya akan menjawab ”tidak! saya harus naik angkot sekarang, saya suntuk, saya mau pulang!....Ini hari jumat pak?!”......tetapi entah kenapa waktu itu saya justru melangkahkan kaki saya memasuki masjid itu......saya lepas sepatu dan tidak saya duga di tempat penitipan sepatu masih ada penjaganya, saya titipkan dan bapak itu menyodorkan kartu penitipan yang terbuat dari mika dengan angka ditulis tangan menggunakan spidol hitam.........
Niat awal saya sebenarnya sekalian buang air kecil toh kalau sholat sebenarnya bisa saya lakukan setelah sampai di rumah....dan biasanya juga begitu.....kemudian saya ambil air wudlu, dengan sebelumnya saya buang air kecil sesuai rencana,......setelah selesai berwudlu sambil mengusap-usap air wudlu yang tersisa di wajah, mengelap dan mengibas-ibaskan yang di tangan, saya masuki masjid, saya melihat bapak yang tadi masih duduk bersila disitu, saya ambil tempat agak ke sisi samping mepet dengan tembok, berdiri dan siap sholat, tiba-tiba..........
Deb!.........masjid itu seperti tiba-tiba berubah menjadi ruangan ICU, yang terdengar hanya suara detak jantung dug...dug...dug...dst......semua suara yang tadinya hingar bingar hilang lenyap tanpa saya sadari.....klakson sopir angkot yang bertubi-tubi karena ingin memaksa seorang penumpang untuk naik walau bukan jurusan yang ingin dinaikinya, atau suara peluit tukang parkir yang menggemparkan seolah-olah sedang memutuskan tendangan pinalti yang sangat menentukan kemenangan dan gengsi suatu negara...atau suara orang ketawa karena ngobrol dengan temannya......tetapi saya coba untuk tetap meneruskan sholat, saya paksakan untuk tidak perduli....
Dengan perlahan tetapi tak mampu dilawan, kepala saya yang tadinya tegak dipaksa menunduk menghadap sajadah karpet masjid....seperti gerakan tukang cukur yang memaksa lembut karena mau mencukur bagian belakang rambut kita......bahu saya ditekan dengan berat tetapi sangat pelan bergerak dengan sendirinya sampai membentuk busur seperti gantungan baju, menggantung dengan sangat santai......seperti seorang komandan yang sedang mengatur posisi prajurit dari samping, berusaha menekan punggung saya untuk tegak dan membiarkan kepala saya tetap menunduk.....kaki saya dipaksa melangkah lebih lebar sedikit meluruskan jari-jari kaki ke arah kiblat dan memaksa lutut saya tegak sampai benar2 lurus....
Semua kejadian itu berlangsung dengan sadar....tetapi saya berusaha untuk membiarkan apa yang terjadi dengan tenang tanpa harus melawan, apalagi merasa takut, karena saya yakin waktu itu, entah apa dan siapa itu telah membuat saya jadi rileks, tenang dan membuat sholat saya jadi khusuk.......nafas saya menjadi berat dan sangat teratur, bacaan saya tanpa saya sadari terbaca ter-eja satu per satu, pelan dan menjadi sangat jelas......perasaan yang ada hanya rileks............sangat santai......dan sama sekali tidak terbesit untuk memikirkan hal yang lain.......waktu bukan lagi mencemaskan.....penat dan suntuk hilang seketika...... rasa syukur meluap-luap hingga seolah-olah berebut tempat dalam dada karena saking banyaknya.......waktu seolah berhenti di situ,.......... ralat terhadap posisi dan gerakan berlangsung terus hingga sholat selesai, posisi kepala waktu ruku’, telapak tangan di lutut, punggung waktu sujut,telapak tangan waktu takbir, dan masih banyak lagi, sangat pelan dan saya biarkan hingga posisi sesuai dengan yang dinginkannya......saya semakin membiarkanya, saya sangat menikmati instruksi-instruksi dengan caranya..... dalam hati saya bertanya “apa demikian sih sikap sholat yang benar?”
.....begitu sampai sholat selesai......
Sudah tidak ada orang di masjid itu, mungkin karena terlalu lama atau apa.....saya tidak tahu kapan orang yang duduk bersila tadi pergi......saya rebahkan badan sambil terlentang....sambil terpejam saya pikirkan apa yang baru saja terjadi....tidak begitu lama, tiba-tiba!.....gerakan itu datang lagi, menekan dengan lembut dahiku ke arah kedua pelipis......sehingga kerutan persis ditengah-tengah dahi benar-benar telah lenyap.....kedua ujung bibir ditekan ke atas ke arah belakang kedua telinga.....sehingga tanpa saya sadari saya telah tersenyum dengan sangat pelan.....dan tiba-tiba berhenti pada tarikan tertentu....sehingga yang tertinggal di bibir saya adalah senyum yang sangat lembut dan tipis.....tetapi berbeda dengan apa yang saya rasakan, saya merasa tersenyum lebar dan sangat hangat......dengan rasa syukur yang luar biasa......
Saya ambil sepatu dan bapak itu sambil tersenyum menyodorkan sepatu saya yang barangkali hanya satu-satunya sepatu yang dititipkan karena memang sudah tidak ada lagi orang yang sholat di masjid itu......saya ambil dan saya mencoba memberikan sedikit imbalan uang atas segala kebaikan yang sebenarnya sangat tidak seimbang.... senyum bapak itu tidak dapat dibayar!......
Seperti seorang pejabat yang sudah ditunggu oleh mobil dan sopirnya....begitu keluar dari halaman masjid sudah ada angkot berhenti yang pintunya persis di depan saya.....saya buka pintu dan duduk di samping sopir karena kebetulan tidak ada orang yang duduk di depan.....sambil masuk angkot dengan ringan dan senyum selalu menghias perasaan saya serta sangat tenang........seperti ketenangan seorang jenderal karena memenangkan perang yang melelahkan telah membuat saya tertidur, layaknya bayi yang baru saja digantikan popoknya......sementara angkot terus melaju tanpa saya sadari.....kantor pos!......begitu yang saya ucapkan lirih ketika bangun dengan menoleh-noleh liar meraba-raba kira-kira sampai dimana....perjalanan setengah jam hingga hampir satu jam tidak terasa telah saya lalui dengan tidur.....kantor pos menandakan saya sudah kelewat dari tempat yang seharusnya saya berhenti dan berganti dengan ojeg ke atas ke arah perumahan...
Perasaan yang sedikit bingung, perasanaan yang kembali bergemuruh, menghitung, menimbang, memperkira, menyesal, terburu-buru, utung, rugi, sakit, capek, ngilu, malem, waktu, massa dan segala jenis satuan telah mendesak-desak dan terus berputar-putar di dalam otak...perasaan saya seperti seember air penuh di waktu pagi yang digoyang-goyang hingga bergolak-golak.....saya kembali lagi dengan angkot yang berlawanan sampai ketempat yang semestinya saya berhenti untuk ganti dengan ojeg....sampai dirumah saya membuka pintu pagar dengan pelan-pelan karena takut membangungkan anak-anak saya yang sedang tidur......dengan sangat cepat dan sudah menjadi kebiasaan saya buka pintu karena memang tidak dikunci, begitu kalau jumat dan kalau tahu saya mau pulang maka istri saya membiarkan pintu rumah tidak terkunci,......
Seperti biasa saya buka sepatu, saya kumpulkan tenaga kembali dengan pelan untuk menempatkan tas dan sepatu pada tempatnya, melepas baju, dan celana dengan sangat pelan karena takut membangunakan anak-anak dan istriku yang sedang tidur, sambil menguras semua benda dari kantong baju dan celana untuk saya letakan di meja...dan tanpa saya sadari saya mendapatkan angka 34 berbentuk potongan mika kecil berwarna hijau bertuliskan tangan dengan spidol hitam....saya mencoba mengingat-ingat benda apa ini, wah ini pasti dari sebuah tempat penitipan tapi dimana?.....saya mulai teringat dan betapa saya menjadi lemas terhadap apa yang baru saja terjadi......mika kecil itu ternyata adalah nomor penitipan sepatu di masjid yang baru satu jam yang lalu saya tinggalkan yang memberikan kenangan dan kenyamanan hati yang begitu dasyat serta pelajaran sholat yang begitu mahal.....nomor itu terbawa dan saya simpan hingga sekarang.....
Saya jadi teringat ayat dalam surat Ar-Rahman surat ke 55 dalam Al-Qur’an..........fabiayyiaalaa irobbikumaa tukdzdzibaan?...........maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?.....
Mungkin itu pula lah Allah SWT mengulang-ulang ayat tersebut hingga 31 kali dan mengakhiri surat tersebut pada ayat ke 78 yang artinya:
.......Maha Agung nama Tuhanmu Yang Mempunyai kebesaran dan karunia.......
Karena begitu gampangnya orang melupakan apa yang menjadi karunia Allah SWT dan menjadi sangat ingkar terhadap nikmat-nikmatnya serta kurang bersyukur.....Ya Allah ampuni dosa-dosaku........
Bandung, 20 Juni 2009
Sebuah kisah nyata
Sunday, April 26, 2009
THE REAL VAMPIRE
Monday, March 16, 2009
I DON'T LIKE MONDAY
Oleh : M. Rum Budi S.
Hampir setiap orang mengatakan “ I Don’t Like Monday” pada saat akan memulai aktivitas setelah berakhir pekan. Setiap hari Senin datang, virus malas itu langsung menyerang semangat seorang pekerja ataupun pelajar. Seakan-akan hari Senin adalah waktu yang membosankan. Hari Senin diidentikkan dengan hari yang melelahkan karena itu berarti kembali kepada rutinitas kerja atau belajar. Sudah menjadi ketentuan umum bahwa setiap pekerjaan yang rutin dan tidak ada variasinya itu memang sangat membosankan. Dan rasa bosan itu yang menimbulkan penyakit malas.
Ada beberapa cara orang dalam menikmati hari liburnya pada saat weekend di hari Ahad dengan cara yang salah, seperti berlebihan dalam makan, minum dan istirahat. Padahal kalau banyak makan,minum, dan tidur itu kandungan lemak badan meningkat dan menyebabkan gerakan otot jadi kaku sehingga akibatnya sifat malas dan lamban akan tumbuh subur. Barangkali ini adalah salah satu sebab Allah dan Rasul-Nya melarang untuk berlebihan dalam makan dan minum. Allah berfirman: “Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) mesjid, makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan”. (QS al-A’raf: 31).
Umar ra berkata, “Jagalah dirimu dari sifat rakus pada makanan dan minuman. Karena, hal itu akan merusak badan, mewariskan penyakit , membuat malas melakukan sholat. Wajib atas kamu menjauhi sifat rakus pada makanan dan minuman, karena hal itu menyehatkan badan dan menjauhi sikap berlebih-lebihan. Allah Subhanallah wata’ala murka atas orang saleh yang gemuk (rakus pada makanan-minuman). Sesungguhnya seseorang tidak akan binasa hingga nafsunya mempengaruhi agamanya”. (Dalam Kitab Kanzul ‘Ummal karangan Ala’uddin)
Bagi orang mukmin sejati, tidak ada ucapan “ I Don’t Like Monday”, sebab mereka mengetahui arti rentetan hari merupakan ladang bagi kehidupan di akhirat nanti. Mereka adalah para penyuluh ajaran Rasulullah Salallaahu’alaihi wassalam, yang senantiasa menanti hari Senin untuk melaksanakan Puasa Sunnah Senin-Kamis mengikuti jejak Rasul-Nya dalam mencapai ridha Allah. Nabi justru senang ketika hari Senin datang, karena pada hari Senin dan Kamis, ditampakkan amal perbuatan manusia, dan Nabi sangat ingin ketika amal ditampakkan beliau dalam keadaan puasa. Dari Abu Hurairah RA, bahwasanya Nabi SAW bersabda, “Amal-amal ditampakkan (dilaporkan) setiap hari Senin dan Kamis. Maka aku senang manakala amalku ditampakkan sedang aku berpuasa” [HR Ahmad dan Tirmidzi].
Ketika orang lain terjebak dalam keburukan karena malas bekerja di hari Senin, orang yang puasa Senin - Kamis justru menjadi pionir dalam kebaikan dengan bekerja giat sebagai upaya ketaatan dan mendekatkan diri kepada Allah. Apapun pekerjaanya harus diniatkan secara ikhlas dan dijadikan sebagai sarana untuk bertasbih-mendekatkan diri kepada Allah.
Tidak ada hari yang perlu dibenci, semua orang mempunyai kesempatan yang sama dalam semua hari, entah beramal baik atau buruk, entah masih hidup atau dijemput mati, semua kesempatan itu berada pada hari Senin sampai Ahad, tidak ada hari yang lain. Ada seorang pemuda pernah bertanya kepada Rasulullah Salallaahu’alaihi wassalam, tentang amal harian yang bisa memasukkan seseorang ke surga atau amal harian yang paling disukai Allah, maka Rasulullah bersabda: “Kamu harus banyak sujud kepada Allah, karena sesungguhnya tidaklah kamu melakukan sujud kepada Allah, melainkan Allah meninggikan bagimu satu derajat karenanya dan menggugurkan darimu satu kesalahan“. (HR. Muslim, Abu Daud, dan Nasa’i). Dengan cara memperbanyak sholat sunnah setiap harinya, Insya Allah akan menghantarkan seseorang menuju surga Allah.
Mudah-mudahan kita tetap terus bersemangat bekerja walaupun hari Senin, dan mohonlah kepada Allah untuk tetap bersemangat beribadah setiap harinya. Rasulullah Salallahu’alaihi wassalam bersabda: “Bersemangatlah, mendekatlah, bergembiralah, dan mohonlah pertolongan kepada Allah di waktu pagi, sore, dan sebagian waktu di akhir malam“ (HR. Bukhari).
Friday, January 2, 2009
Tahun Baru
Oleh : M. Rum Budi
Pergantia
n tahun, apakah betul sebagai saat yang istimewa?, perlukah dirayakan?. Bukankah pergantian tahun itu esensinya adalah pergantian detik yang senantiasa kita lalui dengan biasa, tidak ada istimewanya bukan?. Keuntungan apa yang kita dapatkan ketika kita merayakannya? Pesta tahun baru itu bukan kebiasaan orang-orang shaleh. Pesta ulang tahun, pesta musik dan pesta kembang api bukan kebiasaan umat islam yang imannya kuat.
Tahun merupakan rangkaian satuan waktu yang tidak berbeda dengan satuan waktu yang lain seperti detik, menit, hari, minggu, dan bulan. Satuan waktu itu senantiasa bergulir, terus berjalan dan berjalan tanpa henti. Waktu itu secara abadi berjalan ke depan, tak ada yang mundur ke belakang dan senantiasa baru, tidak ada waktu yang usang. Sampai kapan-pun lahun lalu hanyalah kenangan, tahun sekarang adalah kenyataan hidup yang kita miliki, dan tahun depan adalah harapan. Hidup akan terasa berharga bila kita menggenggam waktu dengan baik, sebab hilangnya harta benda dapat dicari lagi dengan kerajinan dan kehematan, sedangkan hilangnya waktu/kesempatan, sekali hilang tetap hilang. Waktu itu laksana pedang yang siap memotong-motong kesempatan diri anda bila hidup anda lengah, maka hidup akan celaka dan barangkali mati terhina dalam penggalan waktu.
Tanda-tanda waktu itu diciptakan Allah supaya kita tahu bahwa manusia itu sesunggguhnya akan merugi dalam hidupnya, apabila tidak menggunakan waktu pada saat apapun juga untuk melakukan amal sholeh, saling menasehati dalam kebenaran dan berpesan dalam kesabaran. Pertanyaannya rugikah kita menjadi manusia tahun lalu dan bagaimana merencanakan tahun depan dengan berbagai amal sholeh dan dakwah untuk mencapai ridho Allah yang dilakukan penuh kesabaran?.
Setiap tahun pasti akan terjadi tahun baru, tetapi sanggupkah kita akan selalu memperbaruhi keimanan? Sebab hilangnya waktu dan iman seseorang pertanda lenyapnya kesempatan meraih kemuliaan. Iman sebagaimana waktu adalah seperti air yang harus ada dalam hidup ini. Dalam setiap tahun dibutuhkan keimanan yang kokoh dan kuat kepada Allah untuk memakmurkan kebijaksanaan hidup. Tanpa iman yang mengakar dalam sanubari, maka hidup akan mudah terombang ambing oleh gelombang keindahan dunia ini yang akan menjauhkan dari rahmat Allah dan membuat kita mudah terperosok ke dalam lembah keburukan/kesesatan.
Bertambah tahun berarti bertambah umur, yang anak-anak menjadi remaja, yang remaja menjadi dewasa dan yang dewasa menjadi tua dan yang tua akan menjadi pikun. Allah berfirman :”Dan barang siapa yang Kami panjangkan umurnya niscaya Kami kembalikan dia kepada kejadian (nya). Maka apakah mereka tidak memikirkan?” (QS Yasin: 68). Seharusnya tahun baru menjadikan sadar bahwa kehidupan ini semakin tua, kiamat semakin dekat, dan janji Allah pasti terjadi. “Adapun orang yang diberikan kitabnya dari sebelah kanannya, maka dia akan diperiksa dengan pemeriksaan yang mudah, dan dia akan kembali kepada kaumnya (yang sama-sama beriman) dengan gembira. Adapun orang yang diberikan kitabnya dari belakang, maka dia akan berteriak: "Celakalah aku", dan dia akan masuk ke dalam api yang menyala-nyala (neraka), sesungguhnya dia dahulu (di dunia) bergembira di kalangan kaumnya (yang sama-sama kafir)”. (QS Al-Insyiqaaq : 7-13).
Boleh jadi di tahun baru ini anda akan kembali kepada Allah, sebab kematian itu tidak mengenal umur, kapan-pun bisa terjadi entah hari ini, esok pagi atau lusa nanti. Panjangnya umur tidak menentukan seseorang masuk surga atau tidak. Tetapi kualitas waktu yang diisi dengan ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya lah yang akan menentukan beratnya amal kebaikan yang akan menjadi kunci keselamatan dan kesuksesan kehidupan akherat nanti. “Dan adapun orang-orang yang berat timbangan (kebaikan) nya, maka dia berada dalam kehidupan yang memuaskan (surga). Dan adapun orang-orang yang ringan timbangan (kebaikan) nya, maka tempat kembalinya adalah neraka Hawiyah”. (QS Al Qari’ah : 6 – 9). Maka bagi umat islam yang kuat imannya menyambut tahun baru bukan dengan berpesta ria sebagaimana orang-orang Yahudi dan Nasrani, tetapi dengan bertaubat kepada Allah dengan bersegera kembali kepada Allah walaupun dosa masa lalu setinggi langit. “Katakanlah: "Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. (QS Az Zumar :53)
Monday, December 22, 2008
IBU
Oleh: M. Rum Budi S.
Kasih ibu kepada beta tak terhingga sepanjang masa, hanya memberi tak harap kembali, di Indonesia sepenggal bait lagu itu sepertinya harus direnungkan ulang setiap hari Ibu tanggal 22 Desember. Kasih ibu itu adalah naluri dan tanggung jawab yang harus diemban secara ikhlas. Seorang ibu itu mempunyai sifat penyayang 70 kali lipat dari seorang ayah. Ibu itu punya kelembutan, sedangkan ayah punya keperkasaan. Tetapi kelembutan ibu di zaman sekarang ini kadang berubah menjadi keperkasaan. Bagaimanapun keadaan yang menuntut seorang ibu bekerja atau berkarier, sehingga menjadikan kelembutan ibu itu semakin lama pudar. Barangkali penyebab utamanya karena seorang ibu di zaman sekarang ini banyak, merasa mempunyai penghasilan lebih sehingga dirasa lebih perkasa dari ayah. Coba amati bagaimana keperkasaan ibu Dr. Srimulyani (Menteri Keuangan RI 2008) dan ibu Dr. Fadhilah Supari (Menteri Kesehatan RI 2008)?. Saya kira kelembutannya dua ibu menteri tadi akan jauh lebih pudar dibandingkan Ibu Anton atau Ibu Taat sebagai Ibu Rumah Tangga. Curahan perhatian ibu kepada anak akan lebih besar apabila ibu itu memang tidak bekerja. Kasih sayang ibu kepada anaknya lebih terasa apabila ibu justru menganggur. Ibu adalah makhluk Allah yang fitrahnya memiliki kelemah-lembutan dan kasih sayang karena itu mereka punya rahim. Dari rahim para ibulah lahir dan tumbuh anak-anak shaleh dan shalihah.
Friday, November 21, 2008
Tabrak Lari
Tetangga saya meninggal dunia karena kasus tabrak lari. Sampai sekarang si penabrak belum ditemukan. Mungkin juga kemana rimbanya si penabrak sulit ditemukan. Karena anaknya yang mati itu tidak mungkin akan hidup lagi , maka keluarga korban hanya pasrah kepada Allah dan mencoba menerima kenyataan ini. Kematian memang takdir Allah yang tak bisa ditolak. Umur manusia itu berada dalam genggaman Allah. Terserah Allah mau menggambil nyawa manusia kapan saja, karena memang semua milik Allah dan akan kembali kepada Allah. Menuju kematian itu memang berbilang sebab. Kalau sudah waktunya atau gilirannya tak ada yang bisa menolak, walaupun mereka di dalam dinding yang kokoh.
Allah berfirman :”Di mana saja kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, kendati pun kamu di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh, dan jika mereka memperoleh kebaikan, mereka mengatakan: "Ini adalah dari sisi Allah", dan kalau mereka ditimpa sesuatu bencana mereka mengatakan: "Ini (datangnya) dari sisi kamu (Muhammad)". Katakanlah: "Semuanya (datang) dari sisi Allah". Maka mengapa orang-orang itu (orang munafik) hampir-hampir tidak memahami pembicaraan sedikit pun?” (QS. An Nisaa : 78).
Apakah si penabrak tahu kalau yang ditabrak itu telah mati?, mungkin nggak tahu, sehingga mereka tenang-tenang saja karena merasa tidak bersalah. Tetapi sesungguhnya Allah akan meminta pertanggung jawaban setiap apa yang diperbuat oleh manusia. Dan setiap kejadian apa saja yang terjadi dibumi ini semua atas ijin Allah. “Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang gaib; tak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir biji pun dalam kegelapan bumi dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lohmahfuz).” (QS. Al An’aam : 59).
Jadi atas ijin Allah jugalah kalau sampai sekarang si penabrak belum ketahuan. Allah memang telah mengijinkan atau menentukan bahwa dalam suatu kejadian tabrakan, memungkinkan semua orang bisa menempuh jalan/usaha untuk lari dari tanggung jawab. Manusia memang diberi pilihan untuk menempuh jalan kebaikan (ketaqwaan) atau menempuh jalan kesesatan (fasik). Barangsiapa menempuh jalan ketaqwaan (bertanggung jawab atas tabrakan tadi), maka termasuk orang yang beruntung karena besok di akherat pertanggung jawabannya lebih ringan. Tetapi kalau ia menempuh jalan kefasikan (lari dari tanggung jawab, padahal jelas-jelas dia yang nabrak ), maka rugilah karena pertanggung jawabanya di akherat nanti lebih berat. Padahal kesenangan dan kesengsaraan di dunia ini hanya sesaat dibandingkan dengan kesenangan dan kesengsaraan di akherat.
Firman Allah: “maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya, sesungguhnya beruntunglah orang yang menyucikan jiwa itu, dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya. (QS, Asy Syam : 8-10).
Termasuk diberi pilihan oleh Allah, orang yang sebenarnya menyaksikan kasus tabrak lari, tetapi para saksi lebih bersikap diam dan tidak mau melaporkan kepada Polisi. Sikap masyarakat memang cukup beralasan karena sudah banyak kejadian si pelapor malah diperas Polisi. Memang masyarakat malas berhubungan dengan Polisi, katanya tidak ada untungnya sama sekali berurusan dengan Polisi, lebih baik dihindari karena lebih banyak tidak bermanfaat. Walaupun tidak seluruhnya benar Oknum Polisi melakukan pemerasan (premanisme), tetapi kesan umum masyarakat memberi citra kepada Polisi memang jelek.
Semua sudah terjadi. Nanti di akherat semua akan dimintai pertanggung jawaban apa yang telah diperbuatnya saat di dunia ini. Tidak ada syafaat dan tidak ada pertolongan kecuali syafaat dan pertolongan Allah. Dan tidak ada yang dirugikan, Maha Suci Allah Tuhan Yang Maha Adil dan Maha Bijaksana. “Dan jagalah dirimu dari (`adzab) hari (kiamat, yang pada hari itu) seseorang tidak dapat membela orang lain, walau sedikit pun; dan (begitu pula) tidak diterima syafa`at dan tebusan daripadanya, dan tidaklah mereka akan ditolong” (QS. Al Baqarah : 48).
Wednesday, November 19, 2008
Tiada Hari Tanpa Makan
Setiap makanan pasti berasal dari hewan dan tumbuhan, kecuali Sumanto....kaliiiii. Untuk makanan yang berasal dari hewan disebut makanan hewani. Sedangkan yang berasal dari tumbuhan disebut makanan nabati. Asal mulanya setiap makanan itu halal, kecuali yang dilarang. Silahkan saja mau makanan apapun prinsipnya Allah menyediakan untuk manusia, ”Dia-lah Allah, yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu .....” (QS Al-Baqarah: 29). Tapi kalau hidup ini hanya untuk beribadah kepada Allah jangan sekali-kali makan beberapa makanan yang dilarang oleh Allah.
Allah berfirman: ” Hai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rezeki yang baik-baik yang Kami berikan kepadamu dan bersyukurlah kepada Allah, jika benar-benar hanya kepada-Nya kamu menyembah. Sesungguhnya Allah hanya mengharamkan bagimu bangkai, darah, daging babi dan binatang yang (ketika disembelih) disebut (nama) selain Allah. Tetapi barang siapa dalam keadaan terpaksa (memakannya) sedang ia tidak menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas, maka tidak ada dosa baginya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang ” (QS Al-Baqarah: 172-173).
Hamba Allah dimana-pun dan siapa-pun juga di dunia ini, secara prinsip sejak Nabi Adam ’alaihissalam sampai akhir jaman nanti, tetap saja tiada hari tanpa makan, hanya kebutuhannya setiap orang di dunia ini berbeda. Orang yang tinggal di daerah dingin seperti Norwegia dan Swedia memerlukan banyak makanan untuk membantu menghangatkan dirinya agar suhu tubuhnya tetap normal. Sedangkan bagi orang yang tinggal di daerah tropis, seperti Indonesia dan Malaysia, mereka justru membutuhkan sedikit makanan bila dibandingkan dengan minuman. Demikian juga perbedaan dalam selera makanan dan cara makan orang di setiap negara. Persoalannya, coba amati bagaimana selera dan cara makan penduduk negeri-negeri yang mayoritas penduduknya orang kafir. Barangkali yang mengherankan justru makanan dan minuman yang dilarang oleh Allah malah dimakan dan diminum. Sudah jadi ketetapan Allah, bahwa orang kafir itu senantiasa mengingkari ayat-ayat-Nya.
Apapun makanannya, Allah berfirman ”Hai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan; karena sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagimu”. (QS Al-Baqarah: 168). Dan apapun minumanya Rasulullah Sallahu’alaihi wasalam bersabda : ”Segala macam minuman yang memabukan (sedikit atau banyak), maka hal itu hukumnya haram (terlarang)”. (HR Bukhari – Muslim).
Tiada hari tanpa makan, maka jadikanlah makan itu sebagai sarana menuju hidup sehat di dunia maupun di akherat nanti. ”Jauhilah kamu makan dan minum yang berlebihan, karena yang demikian dapat merusak kesehatan tubuh, menimbulkan penyakit dan memberi kemalasan (kesulitan) ketika sholat. Dan hendaklah bagimu bersikap sedang (cukupan) karena yang demikian akan membawa kebaikan pada tubuh, dan menjauhkan dir dari sikap berlebihan”. (HR. Bukhari).
Thursday, November 13, 2008
The Real Pension
Terkadang bagi orang-orang tertentu masa pensiun itu menakutkan, tetapi bagi orang lain masa pensiun itu terasa indah. Sebenarnya tergantung dari seseorang mensikapi hari-hari pensiun itu. Kalau masa pensiun diukur dari berkurangnya pendapatan, maka akan selalu terpikirkan bagaimana mengisi masa pensiun itu dengan hari-hari menambah penghasilan, sedangkan tenaga dan pikiran sudah tak efektif lagi. Pola pikir yang pengin terus dan terus menambah duit depositonya sesudah pensiun, ya barangkali itu yang membuat susah (pendapat umum yang menyebakan cepat mati). Berbeda dengan seseorang yang melihat lebih santai karena masa pensiun adalah masa untuk menikmati hasil yang selama ini telah dicapai. Bagaimanapun mempersiapkan bekal menghadapi masa pensiun itu sangat penting. Bukankah semua keberhasilan itu diukur dari cara mempersiapkannya?.
Persiapan pensiun yang sebenarnya adalah memasuki masa pensiun dari hidup ini yaitu kematian. Kematian adalah The Real Pension. Kalau pensiun purna baktinya kepada Negara, maka kematian adalah purna bakti pengabdianya kepada Allah. Jika batas usia pensiun minimal 50 tahun dan maksimal mencapai umur antara 56-58 tahun , maka batas usia hidup hanya kepada Allah tempat tergantung segala sesuatu. Kalau sesorang betul-betul mempersiapkan pensiunan yang sesungguhnya dari kehidupan ini, maka itulah keindahan yang paling abadi. Keindahan yang abadi hanya akan dialami oleh seseorang yang pada saat menjalani hidup ini bertolak ukur kepada keimanan, keislaman, beramal sholeh, berakhlak mulia, dan berbuat ikhsan.
Ali r.a. berdiri diatas kuburan dan menangis, lalu berkata: ”Semoga keselamatan terlimpahkan kepadamu, hai ahli kubur!”. Maukah kamu dengar berita dari kami ?. Adapun mengenai istri-istri yang kamu tinggalkan, kini mereka telah menikah lagi. Rumah-rumah telah dibagikan, dan harta telah diwariskan. Inilah berita dari kami. Bagaimana dengan berita dari kamu?. Selanjutnya Ali r.a. sambil menangis dan berkata: ”ternyata mereka diam” Demi Allah seandainya mereka dapat berbicara, tentulah mengucapkan firman-Nya : ”..........Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal itu adalah taqwa......” (QS Al-Baqarah : 197).
Seseorang yang hanya mempersiapkan pensiunnya di dunia ini, maka tidak pernah merasakan keindahan masa pensiunan yang sesungguhnya ” The Real Pension ”. Apapun keindahan yang dialami di dunia ini adalah keindahan yang semu dan melalaikan. Dunia hanya polesan yang terlihat menajubkan seperti mengkilap, tetapi kehidupan hakiki ada di kehidupan sesudah mati dan kekekalan hanya di akhirat. ” Apa yang ada disisimu akan lenyap dan apa yang disisi Allah akan kekal abadi......(QS An-Nahl : 96). Dunia ini memang tempat bekerja untuk dinikmati hasilnya di akherat. Kalau pagi dan petang hanya untuk bermain-main, tidak bekerja dengan berpegang teguh dengan agama, maka penyesalan setelah kita mengalami ” The Real Pension ”.
"Katakanlah bahwa sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan sesuatu yang melalaikan perhiasan; dan bermegah-megahan antara kamu serta berbangga-bangga tentang banyaknya harta dan anak seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani, kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning, kemudian menjadi hancur dan di akhirat (nanti) ada adzab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya Kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu. Berlomba-lombalah kamu untuk mendapatkan ampunan dari Tuhanmu yang luasnva seluas langit dan bumi, yang disediakan bagi orang-orang yang beriman kepada Allah dan rasul-rasul-Nya. Itulah karunia Allah; diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya dan Allah mempunyai karunia yang besar” (QS. Al-Hadid: 20-21).
Barang siapa yang memusatkan hatinya untuk persiapannya menuju ” The Real Pension”, niscaya akan terbukalah sumber-sumber hikmah dalam hidupnya. Oleh karena itu janganlah bersedih sebagai pegawai karena berkurangnya penghasilan setelah pensiun, tetapi bergembiralah karena anda telah mempersiapkan amal sholeh untuk ” The Real Pension”.
Tuesday, November 11, 2008
Datangnya Kematian Itu Lebih Cepat Dari Pasang Antena
Datangnya kematian memang tidak diberitahukan, tetapi manusia diberi kepastian akan datangnya kematian. Datangnya kematian bisa mendadak, bisa normal-normal aja atau setelah tua baru mati. Sebagian orang senang mati mendadak, alasanya tidak merepotkan orang lain, kalau pakai sakit dahulu kasihan yang merawat. Bagi sebagian yang lain berbeda pendapat, sakit itu nikmat katanya, bila diberi sakit dahulu berarti datangnya pengampunan, karena sakit itukan penebus dosa bagi yang sabar menjalaninya. Berbeda pula rasanya kemungkinan untuk orang yang sudah diberi tahu waktu kematiannya, seperti kasusnya orang yang dihukum mati. Dalam kasus hukuman mati saya setuju sebagaimana pendapat Amrozi, mau dihukum tembak, dihukum pancung, mau disuntik terserah eksekutornya, yang jelas kematian harus dihadapi. Sebenarnya bagi yang mati, mau mati mendadak atau tidak sama saja, yang membedakan persiapan untuk bekal matinya.
Kita hidup dari saat ke saat dari hari ke hari, demikian juga datangnya kematian dari waktu ke waktu pasti menghampiri setiap yang berjiwa. Kematian itu datangnya lebih cepat dari memasang antene. Buktinya ada tukang antena internet yang esok hari berjanji mau memasang antena dirumah saya, tetapi waktu saya tunggu kedatangannya, bapaknya mengabarkan kalau anaknya si tukang antena malam harinya meninggal dunia karena tabrakan, walaupun umurnya sepantaran anak saya, tapi dia lebih dulu dipanggil Allah. Tua atau muda semua akan tunduk bila kematian telah menjemputnya.
Dari Abdullah bin Umar RA, Ia berkata : Rasulullah SAW pernah melewati saya, pada waktu itu saya sedang memperbaiki tembok saya dan ibu saya. BeIiau bersabda, “Apa ini wahai ‘Abdullah ?“ Aku menjawab, “ya Rasulullah, ini sudah rusak, maka dari itu kami lalu memperbaikinya” BeIiau bersabda, “Urusan (akhirat) itu Iebih cepat dari pada yang demikian itu”. Dan dalam satu riwayat, dia berkata Rasuluilah SAW pernah melewati kami pada waktu itu kami sedang memperbaiki rumah kami yang rusak. Lalu beiiau bertanya, “Apa ini ?“ Maka kami menjawab, “Rumah kami yang sudah rusak, maka kami memperbaikinya” Beliau bersabda, “Tidaklah aku melihat urusan (akhirat) itu kecuali lebih cepat dari yang demikian itu”. [HR. Abu Dawud, Tirmidzi, ia berkata hadits hasan shahih, Ibnu Majah dan Ibnu Hibban].
Hari esok itu manusia tidak ada yang tahu apa yang terjadi. Masa depan betul-betul milik Allah. Manusia hanya merencanakan Allah yang menentukan. Selama waktu masih ada manusia diberi keluasaan dalam tataran proses hidup dengan sebaik-baiknya, tetapi manusia punya batas yang nyata dari akhir segala proses hidup ini yaitu kematian. Hal yang barangkali perlu diingat ”tidak semua yang manusia rencanakan akan berhasil dan tidak semua hasil sesuai yang manusia rencanakan”. Hidup ini hanya sementara dan di dunia ini tidak yang sempurna. Kesempurnaan itu hanya ada dalam syair dan lagu, bukan dalam kenyataan ini. Kesempurnaan itu hanya milik Allah yang maha sempurna.
Katakanlah: "Sesungguhnya kematian yang kamu lari daripadanya, maka sesungguhnya kematian itu akan menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang gaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan". (QS al-Jumuah: 8)
Boleh saja manusia bekerja keras untuk mengumpulkan uang dan meraih apa yang dibutuhkan serta diinginkan, tapi ingat banyaknya uang tidak bisa menggeser datangnya kematian. Lamanya hidup di dunia ini tidak menentukan kualitas hidup di alam kehidupan setelah mati. Kemuliaan hidup sesudah mati sangat ditentukan oleh kedekatan manusia dengan Allah pada saat menjalani proses hidup dunia. ” Manusia itu butuh uang untuk dekat dengan Allah, bukan kedekatannya dengan Allah untuk cari uang”.
Dari ‘Abdullah bin ‘Umar RA ía berkata : Rasulullahah SAW memegang pundak saya lalu bersabda, “Jadilah kamu di dunia ini seolah-olah kamu orang asing atau orang yang sedang di dalam perjalanan” Dan Ibnu Umar berkata, “Apabila kamu berada di waktu sore, Janganlah kamu menunggu waktu pagi. Dan apabila kamu berada di waktu pagi, maka janganlah kamu menunggu waktu sore. Beramallah di waktu sehatmu untuk simpanan di waktu sakitmu, dan beramallah di waktu hidupmu untuk simpanan ketika matimu”. [HR. Bukhari].
Saturday, October 25, 2008
"KAMERA TERSEMBUNYI"
Kita sering mendengar pada berita-berita kriminal, bahwa pelaku sebuah kejahatan tertangkap atas bantuan rekaman CCTV. Atau kejadian-kejadian kriminal lain misalnya pencurian di ATM, berita kematian artis Alda Risma atau berita pencurian pada sebuah bank, pelaku atau setidaknya rangkaian peristiwanya dapat dilihat dari rekaman kamera CCTV ini. Bahkan sekarang di komplek perumahanpun sudah ada kamera ini guna menjaga keamanannya. Banyak juga perusahaan yang menggunakan jasa alat ini untuk memantau segala aktivitas karyawannya, sehingga akan ketahuan bagian mana atau siapa yang kontra produktif dan siapa saja yang produktif. CCTV adalah kamera yang dipasang secara tersembunyi untuk memantau dan merekam segala aktivitas yang dapat tertangkap oleh kamera tersebut. Orang yang dipantau tidak pernah merasa sedang berakting di depan kamera, sehingga benar-benar terlihat alami, natural, apa adanya tanpa dibuat-buat. Berbeda dengan artis yang sedang berakting di depan kamera untuk melakonkan adegan tertentu, maka dia akan berlaku sebaik-baiknya agar terlihat bagus sehingga sang penonton akan merasa senang dan terhibur. Sang pelakon bangga, dan sang penonton senang!!!
Lain lagi ceritanya jika kamera itu dipasang pada letak yang lebih canggih lagi, yakni pada satelit. Google, sebuah perusahaan terkenal di Amerika Serikat, telah memasang kamera di satelit nun jauh di atas sana guna memantau keadaan di bumi ini, di belahan manapun. Dengan kamera yang canggih tersebut, dia merasa bisa menguasai dunia, bagaikan memiliki tangan tuhan. Astaghfirullah!!! Sudah sedemikian canggihkah alat itu, sehingga membuat orang lupa diri???
Ini dampak bagi sang pemilik. Berbeda ceritanya bagi sang pelaku, jika dia merasa dipantau atau sedang direkam, dia akan bertindak sebaik-baiknya. Sedang jika dia tidak merasa sedang direkam, dia akan berbuat alami, bahkan dia mau berbuat curang atau perbuatan maksiat lainnya.
Dan sesungguhnya, kita semua, semua makhluk di bumi ini memiliki “kamera tersembunyi” yang mengikutinya kemanapun dia pergi, sehingga terekamlah apapun yang diperbuatnya. Kamera yang diciptakan Allah, untuk merekam semua aktivitas kita, sejak lahir hingga kita kembali menghadapNya. Coba kita simak firman Allah : “Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya, (yaitu) ketika dua orang malaikat mencatat amal perbuatannya, seorang duduk di sebelah kanan dan yang lain duduk di sebelah kiri” (QS 50:16-18). Sesungguhnya setiap kita memiliki dua malaikat yang selalu memantau perbuatan kita di manapun kita berada. Tetapi kita tidak merasa sedang diawasi, dan kita tidak merasa menjadi artis yang sedang berakting untuk diambil gambarnya, bahkan rasa sedang direkampun tidak, sehingga akting kita benar-benar alami, mengalir begitu saja tanpa dibuat-buat. Dengan percaya diri kita berbuat kebaikan, tetapi dengan percaya diri pula kita menipu orang-orang yang tidak melihat kita, bahkan kitapun “menipu” Allah yang memiliki malaikat pencatat. Kita lupa, betul-betul lupa kalau kita memiliki Malaikat sang penjaga dan pencatat amal perbuatan kita. Astaghfirullah!!!
Hingga ketika kita meninggal, dan kelak tiba hari pertanggungjawaban yang kita tidak bisa lari daripadanya, kita akan melihat hasil akting kita menjadi artis yang sangat alami. Kita akan mempertanggung jawabkan perbuatan yang telah terekam pada “kamera tersembunyi” tersebut. Kita simak lagi firman Allah : “……dan datanglah tiap-tiap diri dengan seorang malaikat pengiring dan seorang malaikat penyaksi, ……, dan yang menyertai dia berkata :”inilah (catatan amalnya) yang tersedia pada sisiKu” (QS 50:21-23).
Kita akan kaget?malu?mengelak?tapi semua sudah terlambat!!!menyesal, menyesal dan menyesal!!! Astaghfirullah !!!Kalau kita selalu merasa menjadi artis yang senantiasa direkam oleh “kamera tersembunyi”, apa yang akan kita lakukan? Tentu kita ingin berbuat kebenaran dan kebenaran terus, serta malu untuk berbuat maksiat, setidaknya akan berpikir 2 kali jika akan berbuat maksiat. Siapkah kita untuk mempertanggungjawabkannya si hadapan Allah kelak??? Mari kita renungkan!!!
Sunday, October 12, 2008
Orang Kaya Baru (OKB)
oleh: M.Rum Budi S.
Saya tahu sekali dia adalah orang kaya baru (OKB), setelah lulus jadi sarjana kemudian dia bekerja di perusahaan asing dan sekarang jabatannya sudah tinggi, gajinya luar biasa dan jangan ditanya berapa besarnya karena saya juga nggak tahu, yang jelas tampak dari luar hartanya sangat melimpah, mobilnya banyak dan mahal-mahal, dan rumahnya mewah ada beberapa biji di kawasan elit. Diantara saudaranya sebenarnya yang jadi OKB bukan dia saja, hanya dia lebih kaya. Setiap anak memang kadang berbeda dalam nasibnya, ada yang kaya ada pula yang miskin. Allah melapangkan dan menyempitkan rejeki bagi siapa yang dikehendaki. Harta itu hanya titipan Allah kepada manusia yang sudah ditentukan kadarnya, untuk menguji bagaimana manusia mensikapi harta yang dimilikinya digunakan memenuhi perintah dan larangan-Nya.
“Dan Allah melebihkan sebahagian kamu dari sebahagian yang lain dalam hal rezeki, tetapi orang-orang yang dilebihkan (rezekinya itu) tidak mau memberikan rezeki mereka kepada budak-budak yang mereka miliki, agar mereka sama (merasakan) rezeki itu. Maka mengapa mereka mengingkari nikmat Allah?” (QS. An-Nahl : 71).
Di mata orang lain, ditengah-tengah masyarakat sekarang ini, orang kaya itu sangat dihormati dan dimuliakan meskipun dia kadang tidak memberikan harta kepada mereka sedikitpun. Penghormatan masyarakat memang berlebihan, bagaimana tidak walaupun perkataan orang kaya itu tidak benar bahkan cenderung penuh dusta tapi tetap saja dianggap benar, dan apabila orang kaya itu jelas melakukan kesalahan malah ditutup-tutupi. Coba anda amati orang disekeliling anda sendiri, saya kira masih banyak kita dapati orang yang menghargai orang lain dan menghinakan orang lain itu karena kekayaaannya, bukan karena tindakan kebenarannya. Banyak orang dalam seluruh tingkat pergaulan sosial, orang saling mencintai karena harta dan berpisah karena harta pula. Menyedihkan bukan?, padahal orang yang dapat membuka pintu kebaikan itu bila orang mempunyai sikap mencintai orang lain karena Allah dan membenci orang lain karena Allah.
Bila hati senang dan bangga bergaul dengan orang kaya, maka berhati-hatilah karena akan mendorong kepinginan memiliki harta melimpah, akibatnya merasa malu dan suka meremehkan terhadap orang miskin, sifat tamak terhadap harta semakin kuat dan sifat kikir berkembang pesat. Tetapi bila anda mengharuskan bergaul dengan orang-orang yang bergelimang kemewahan, maka pilihlah ketertarikan anda kepada bagaimana mereka saat memperoleh hartanya dan membelanjakan hartanya karena Allah dan Rasul-Nya. Untuk menghadapi bahaya OKB, apabila saat nanti menimpa diri kita sendiri, ingatlah sabda nabi Muhammmad sallahu’alaihi wassalam: “Sesungguhnya apa yang aku takuti terhadap kamu sekalian (yaitu kaum muslimin) sesudahku adalah terbuka bagimu kembangnya dunia (yaitu kemakmurannya) dan perhiasannya” (HR. Bukhari-Muslim).
Bergaul dengan siapapun orang muslim tidak dilarang, tetapi kualitas agama itu sangat dipengaruhi oleh pergaulan. Bergaul dengan orang miskin atau orang yang sedang dalam kekurangan harta saya kira lebih nyaman dan menyelamatkan agama dan lebih menjadikan orang bersyukur karena merasa mempunyai harta lebih dari cukup dan memotivasi menolong orang yang lemah.
Sabda Rasullullah sallahu’alaihi wassalam “Lihatlah engkau terhadap orang yang lebih rendah (miskin) dari padamu, dan janganlah kamu melihat orang yang lebih tinggi (kaya) dari padamu, karena yang demikian akan lebih tepat bagimu agar tidak meremehkan (memandang kecil) terhadap nikmat yang diberikan oleh Allah padamu”. (HR. Bukhari-Muslim).