Showing posts with label Catatan Pengajian. Show all posts
Showing posts with label Catatan Pengajian. Show all posts

Wednesday, October 14, 2009

PENCIPTAAN MANUSIA

Dirangkai oleh : bu RumBudi

Asal mula manusia diciptakan dari shalshaalin - tanah liat kering - (15;26), kemudian Allah menjadikan keturunannya dari sulaalatin - saripati air yang hina - (32;8), menjadi segumpal darah, tumbuh menjadi segumpal daging, untuk membentuk jasmani yang disimpan dalam rahim (22;5). Dia menyempurnakan ciptaanNya dengan meniupkan ke dalam jasmaninya roh (ciptaan) –Nya (32;9). Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): "Bukankah Aku ini Tuhanmu?" Sang jiwa menjawab: "Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi" (7:172). Dia menjadikan bagi manusia pendengaran, penglihatan (32;9) - untuk menerima informasi dari luar - , dan hati untuk menimbang baik buruknya informasi yang diterima (32:9). Hingga jika telah sampai pada waktu yang sudah ditetapkan, manusia dikeluarkan sebagai bayi (22;5). Allah menugaskan manusia dengan penciptaan yang sempura itu HANYA UNTUK MENGABDI KEPADA-NYA (51;56).

Untuk memenuhi kehidupan manusia, Allah telah menciptakan binatang yang bisa dikuasai manusia untuk diternakkan (32;71), ada yang dijadikan tunggangan (36;72), dan sebagian lain diambil dagingnya untuk dimanfaatkan atau diambil air susunya untuk minuman (36;73). Kemudian diberiNya pula fasilitas tumbuhan yang sebagian bisa dimakan, tetapi sebagian lainnya beracun.
Dengan penciptaan yang sempurna dibandingkan makhluk lain seperti binatang atau tumbuhan, Allah menghendaki manusia memiliki derajat yang tinggi dibandingkan ciptaan lainnya agar manusia menjadi makhluk yang selalu bersyukur, yaitu menggunakan fasilitas2 yang sudah diberikan UNTUK MEMURNIKAN KETAATAN HANYA KEPADA-NYA.

Tetapi kebanyakan manusia tidak mau bersyukur, bahkan mereka lebih memilih kenikmatan dunia ini dan mengikuti keinginannya, yang bernilai rendah di hadapanNya, bahkan mereka melupakan akhirat, yang bernilai tinggi di hadapanNya (7;176). Mereka merasa puas dan tenteram dengan kehidupan dunia ini, lalai dengan ayat-ayat Allah (10;7) bermegah-megah dan berbangga-bangga akan banyaknya harta dan anak (57;20), padahal kehidupan dunia hanyalah kesenangan yang memperdayakan (3;185), senda gurau dan main-main (29;64).
Hati yang sudah diberikan oleh Allah tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah), mata-nya tidak dipergunakan untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan telinganya tidak dipergunakan untuk mendengar (ayat-ayat Allah) (7;179). Padahal ketiganya kelak akan dimintai tanggung jawab (17;36). Kelak di akhirat mereka akan menyesal.

Na’udzubillaahi mindzaalik... Mudah-mudahan kita tidak termasuk golongan yang banyak ini, tetapi termasuk golongan sebaliknya yang berjumlah sedikit. Yaitu orang yang selalu mensyukuri setiap pemberian-Nya, taat Allah dan Rasul-Nya agar mendapat Rahmat-Nya (3;132), bersegera memohon ampunan jika lalai, berbuat keji atau menganiaya diri sendiri (3;135). Astaghfirullah...

Wednesday, November 26, 2008

Mengingat Mati

Oleh: M. Rum Budi S.

  • Dari ‘Abdullah bin ‘Umar RA ía berkata : Rasulul!ah SAW memegang pundak saya lalu bersabda, “Jadilah kamu di dunia ini seolah-olah kamu orang asing atau orang yang sedang di dalam perjalanan” Dan Ibnu Umar berkata, “Apabila kamu berada di waktu sore, Janganlah kamu menunggu waktu pagi. Dan apabila kamu berada di waktu pagi, maka janganlah kamu menunggu waktu sore. Beramallah di waktu sehatmu untuk simpanan di waktu sakitmu, dan beramallah di waktu hidupmu untuk simpanan ketika matimu”. [HR. Bukhari].
  • Dari Mu’adz RA, ía berkata Aku pernah berkata, “Ya Rasulullah, berilah washiyat kepadaku” Beliau bersabda, ‘Sembahlah Allah seolah-olah kamu melihat-Nya, hitunglah dirimu termasuk orang-orang yang akan mati dan ingatlah kepada Allah di waktu tenang maupun di waktu bergejolak. Apabila kamu terlanjur melakukan keburukan maka iringilah dengan melakukan amal kebaikan, rahasia dengan rahasia dan terang-terangan dengan terang-terangan. [HR. Thabrani].
  • Dari Abdullah bin Umar RA, Ia berkata : Rasulullah SAW pernah melewati saya, pada waktu itu saya sedang memperbaiki tembok saya dan ibu saya. BeIiau bersabda, “Apa ini wahai ‘Abdullah ?“ Aku menjawab, “ya Rasulullah, ini sudah rusak, maka dari itu kami lalu memperbaikinya” BeIiau bersabda, “Urusan (akhirat) itu Iebih cepat dari pada yang demikian itu”. Dan dalam satu riwayat, dia berkata Rasuluilah SAW pernah melewati kami pada waktu itu kami sedang memperbaiki rumah kami yang rusak. Lalu beiiau bertanya, “Apa ini ?“ Maka kami menjawab, “Rumah kami yang sudah rusak, maka kami memperbaikinya” Beliau bersabda, “Tidaklah aku melihat urusan (akhirat) itu kecuali lebih cepat dari yang demikian itu”. [HR. Abu Dawud, Tirmidzi, ia berkata hadits hasan shahih, Ibnu Majah dan Ibnu Hibban].
  • Dari Abdullah, dari Nabi SAW, beliau bersabda, “Surga itu lebih dekat kepada seseorang diantara kalian dari pada tali sandalnya, sedang neraka juga seperti itu”. [HR. Bukhari]
  • Dari Sa’ad bin Abu Waqqash RA, Ia berkata: Seorang laki-laki datang kpd Nabi SAW dan berkata, “Berilah washiyat kepadaku ya Rasulullah“. Beliau bersabda, “Wajib atasmu merasa cukup dari apa-apa yang ada di tangan manusia. Dan hati-hatIlah kamu berlaku rakus, karena yang demikian itu kefakiran yang ada, dan laksanakanIah shalatmu sedangkan kamu akan berpisah (dengan dunia) dan hati-hatllah kamu dan melakukan kesaIahan-kesalahan” [HR. Hakim dan Baihaqi. Hakim berkata, shahih sanadnya]
  • Dari Abu Hurairah RA, bahwasanya Rasulullah SAW bersabda, “Bersegeralah kalian untuk beramal sebelum datangnya tujuh hal: 1. Tidaklah kamu menunggu kecuali kemelaratan yang melupakan, 2. kekayaan yang menyebabkan melampaul batas, 3. sakit yang merusakkan, 4. tua yang melemahkan pikiran, 5. mati yang datangnya tak terduga, 6. dajjal, yaltu seburuk-buruk yang ditunggu, 7. Hari qiyamat, karena hari qiyamat itu sangat dahsyat lagi pahit”. [HR. Tirmidzi, Ia berkata hadits hasan].
  • Dari Abu Hurairah RA, bahwasanya Rasulullah SAW bersabda, ‘Bersegeralah kamu sekalian untuk beramal, sebelum datangnya saat-saat kekacauan seperti memotongnya malam yang gelap, di waktu pagi seseorang dalam keadaan beriman dan di waktu sore menjadi kafir. Di waktu sore seseorang dalam keadaan beriman dan di waktu pagi menjadi kafir. Dia menjual agamanya dengan harta benda dunia”. [HR. Muslim].




Tuesday, August 12, 2008

Menyiasati Stamina Iman

Penulis : Yudha Yudhanto

Rasulullah bersabda “Al imanu yazid wa yankus”. Iman itu naik dan turun. Layaknya keimanan manusia yang naik dan turun, pada semangat pun dapat terjadi hal tersebut.

Rasulullah bersabda “Al imanu yazid wa yankus”. Iman itu naik dan turun. Layaknya keimanan manusia yang naik dan turun, pada semangat pun dapat terjadi hal tersebut. Memang, semangat dan keimanan memiliki suatu hubungan yang dekat. Seseorang yang sedang turun keimanannya pasti akan turun pula semangatnya untuk beribadah, belajar, ataupun segala macam perbuatan yang baik dan bermanfaat. Begitu pula sebaliknya.

Merupakan hal yang sangat maklum ketika kita duduk di suatu majelis ilmu mendengarkan ceramah atau kajian dari sang ustadz kemudian hati kita menjadi “sangat” bersemangat. Setelah bangkit dari majelis kita akan ‘berencana’ menjalankan kebaikan disetiap detik kehidupan dan menjauhi atau menghancurkan segala bentuk kemaksiatan dan keburukan sebelum ajal menghadang. Tapi setelah beberapa menit setelah bangkit …(Selanjutnya terserah anda) yang pasti, hampir semua dari kita sering mendapati penurunan motivasi bahkan amal (ilmu yes, amal not yet)

Tapi jangan salah lho walaupun baru rencana, itu merupakan indikasi bahwa hati kita masih dalam kondisi ‘iman’, sebab salah satu ciri manusia beriman adalah jika disiram ilmu maka akan bertambah faham dan semakin yakin.

Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya bertambahlah iman mereka (karenanya) dan kepada Tuhan-lah mereka bertawakal, (QS.08 : 2)

Seorang pelari marathon mempunyai satu tujuan. Sampai di pita finish dan memenangi pertandingan. Pelari yang professional mempunyai teori dalam memanage staminanya, sangat mungkin pada kilometer pertama bukanlah yang terdepan tetapi menginjak step-step terakhir akan mengeluarkan semua kemampuan untuk berlari menjadi nomor satu dan mempertahankannya dari peserta lain.

Begitu juga bagi seorang mahasiswa. Dia sangat yakin bahwa belajar dengan SKS (Sistem Kebut Semalam) adalah sia-sia. Belajar dengan rutin, mendengarkan kuliah dengan serius dan berani bertanya sampai benar-benar faham merupakan modal yang sudah cukup dalam menghadapi soal-soal ujian (kecuali jika pengin lebih).

Trus apakah ilustrasi tersebut sama dengan pemeliharaan ‘Iman’ yang ada dalam diri kita? Yup! Betul hampir sama. Satu hal yang membedakan adalah adanya misteri datangnya kematian. Berbeda dengan pelari dan mahasiswa tadi, karena garis finish dan ujian merupakan hal yang pasti dan terukur.

Untuk memelihara atau menjaga stamina iman menuju kehidupan sesudah mati (syurga) perlu bsntusn sebuah rumus fisika.

Dimana :
W = adalah beban hidup
P = daya dorong
Fs = gaya gesek



Bola merupakan lambang kehidupan yang berjalan terus/menggelinding tapa henti sampai titik kematian (misteri) . Tidak dapat mundur tapi sangat mungkin untuk berbelok menjauhi jalan yang lurus.


Dalam menjaga stamina iman, ada beberapa kaidah yang harus difahami :

1. Semua manusia mempunyai potensi untuk “salah”. Maka Allah memberi penghargaan kepadanya dengan aturan “sebaik-baik orang yang berlaku salah adalah bertobat dan memperbaiki diri”. Dan sejelek-jelek manusia yang bersalah adalah … (tahu sendiri khan!). Silahkan baca QS. 25:70.

2. Semua manusia berpotensi untuk bosan dan jenuh (futur). Maka kenali ciri-ciri kondisi futur, macam penyebabnya dan cara-cara untuk memperbaikinya.

3. Hati manusia berkarakter ‘berubah-ubah’. So, bagaimana kita bisa mengkondisikan agar selalu lebih banyak berpihak dalam kebaikan. Salah satunya hadir di taman-taman ilmu dan memilih lingkungan yang sholeh. Jangan lupa! Selalu berdoa diberi ketetapan hati (minimal sesudah dzikir shalat)


Yup, sekarang mari kita bahas rumus diatas :)
Dari gambar terlihat jelas bahwa ’bola’ kehidupan kita akan didorong oleh Daya dorong (P). Logikanya semakin kuat daya dorong maka akan semakin kuat dalam keimanan (tidak berbelok ke arah yang salah) dalam mengarungi hidup sampai mati.

Kekuatan daya dorong keimanan yang ada dalam diri kita sangat tergantung dari ilmu dan amalan ibadah yang dimiliki dan yang sudah diamalkan. Perbanyaklah ilmu dan perbanyaklah ibadah (tidak hanya yang wajib saja) maka kekuatan dalam menjalani hidup sesuai perintah Allah & Rosul-Nya semakin kuat. Bukankah Iman akan naik dengan perbuatan ’baik’ dan turun karena berbuat ’maksiyat’?

W adalah Beban Hidup. Sering kali terjadi, seseorang yang terkenal alim (baca:sholeh) tapi dalam suatu waktu terbukti melakukan korupsi atau kecurangan. Hmm, mungkin inilah salah satu contoh bagaimana beban hidup (tuntutan kebutuhan duniawi) membuat laju keimanan menjadi berbelok.

Semua manusia mempunyai beban hidup dan tingkatnyapun berbeda-beda. Hanya Allah SWT yang tahu beban yang akan diberikan makhluk ciptaan-Nya, kita hanya bisa mengira-ngira dengan berpikir positif. Bukankah Allah SWT tidak akan memberikan ujian sesuai kemampuan hamba-Nya?

Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya ... (QS.02:286)

Satu hal yang perlu digaris bawahi adalah : kadang-kadang kita menjadi terbebani suatu hal karena keinginan kita yang tidak terukur. Tahun ini harus punya mobil? Harus punya rumah? Harus punya begini atau seperti harus begono..padahal kita tidak cukup mampu dan belum merupakan hal primer atau bukan pendukung ibadah. So ketika ada tawaran untuk bermaksiyat atau tidak jujur, kita menjadi tergoda (terperosok) karena tidak sabar alias pengin jalan pintas saja.

Singkatnya, beban hidup akan selalu ada. Kita harus yakin bisa mengatasinya, agar jalan hidup kebaikan tetap lurus.

Fs adalah gaya gesek. Gesekan akan selalu terjadi dalam hidup baik dari internal (hawa nafsu keburukan) atau eksternal (lingkungan). Pertentangan antara mengamalkan kebaikan dan menuruti keinginan nafsu pribadi atau pengaruh lingkungan akan selalu ada. Kondisi yang mengkhawatirkan adalah ketika kondisi internal (hawa nafsu kejelekan) cocok dengan eksternal (lingkungan yang jahat).

Tips yang utama adalah giat melakukan ibadah, menjaga diri dari pandangan/kegiatan maksiyat, tetap mencari ilmu, mengkondisikan lingkungan/ keluarga untuk mendukung ibadah kita semua dan tetap berdoa kepada Allah SWT. Bagi yang tidak beruntung karena berada di lingkungan yang tidak jujur atau penuh maksiyat silahkan bersiap diri untuk berani peduli menegur, jangan asal ’pokoknyasaya tidak’. Bersiaplah berhijrah jika memang diperlukan sebelum Allah memberikan azab yang menimpa kepada semua.

Semoga kita bisa ikhlas dalam mencapai khusnul khatimah :) Amin.



Sumber, Catatan Kajian 23-12-2007 (CisarantenKulon 151, Bandung)



Wednesday, August 6, 2008

Pengenalan Aqidah (1)

Aqidah secara bahasa bermakna : Kepercayaan Hati. Dari asal kata : ‘akoda – ya’kidu – ko’dan – ‘akiidatan. Yang artinya : telah mengikatkan/ menyimpulkan

Dalam bahasa Indonesia kita mengenal istilah “Akad” yang bermakna perjanjian. Selain itu ada istilah “I’tikad” yang berarti niat untuk sebuah peruntukkan.

Nah, arti secara syar’i adalah : Beriman kepada Allah SWT, Malaikat-Nya, Kitab-Nya, Rosul-Rosul-Nya, Hari Kiamat dan kepada Qodo dan Qodar.

Sebelum Islam datang. Jangan salah sobat ! Dunia Arab khususnya kaum Quraish masih percaya adanya Tuhan lho, tetapi cara nereka adalah dengan menyembah patung-patung (Lata, Uzza, Manna dsb) yang telah mereka buat dengan keyakinan akan mendekatkan diri kepada Tuhan mereka.

39:3. Ingatlah, hanya kepunyaan Allah-lah agama yang bersih (dari syirik). Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah (berkata): "Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya". Sesungguhnya Allah akan memutuskan di antara mereka tentang apa yang mereka berselisih padanya. Sesungguhnya Allah tidak menunjuki orang-orang yang pendusta dan sangat ingkar.

Hampir persis seperti yang sering kita lihat atau dulu kita lakukan : menaruh sesajen untuk keselamatan, berkunjung ke makan ulama untuk meminta sesuatu, mempercayai suatu benda untuk menjadi lebih kuat, meramal atau bertanya nasib kepada mbah dukun dsb. Bisa jadi mereka juga percaya Allah SWT atau disebut Gusti Allah, itu semua hanya sekedar sarana agar lebih dekat dan cepat. Padahal Allah SWT sudah menandaskan bahwa Beliau adalah Maha dari segala Maha, tidak perlu perantara dan persyaratan karena semua yang diinginkan manusia bisa langsung dimohonkan kepada Allah SWT. Allah Maha Mendengar dan Maha Melihat.

Naudhubillah min dzalik, jika saat ini ada yang lebih sangat parah dari kaum Qurais. Karena dalam hidup tidak mempercayai sama sekali adanya Allah SWT. Entah atheis, komunis atau apapun namanya. Bumi dan alam berputar sesuai siklus yang telah berjalan dengan sendirinya. Mereka mencari harta di dunia dengan satu tujuan “usahaku adalah untukku” tidak peduli apakah halal atau harom. Mengumbar nafsu dimanapun berada karena memang tidak merasa diawasi oleh siapapun.

Sangat Pentingnya Aqidah

  1. Jika manusia tergolong Musyrik maka semua amal baik yang pernah dilakukan akan terhapus alias tidak diberi nilai oleh Allah SWT.

39:65. Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) yang sebelummu: "Jika kamu mempersekutukan (Tuhan), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi.

Orang-orang musyrik dan juga orang-orang yang menduakan/mentigakan Allah SWT atau menyerupakan Allah SWT dengan benda lain tidak akan pernah diterima amalnya oleh Allah SWT.

Kita harus tahu bahwa Kaum Qurais juga mempunyai banyak kelebihan seperti : sifat kesukuan yang diaplikasikan dalam tolong-menolong dan saling menjaga dan melindungi, mereka suka bekerja keras dan lihai dalam berdagang, kemudian juga membantu para kabilah-kabilah yang sedang berhaji di ka’bah. Dsb

Tetapi semua amal mereka tidak akan berarti di mata Allah SWT. Berikutnya cuplikan ayatnya :

18:103. Katakanlah: "Apakah akan Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya?"

18:104. Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya.

18:105. Mereka itu orang-orang yang kafir terhadap ayat-ayat Tuhan mereka dan (kafir terhadap) perjumpaan dengan Dia. Maka hapuslah amalan-amalan mereka, dan Kami tidak mengadakan suatu penilaian bagi (amalan) mereka pada hari kiamat.

  1. Amalan yang tidak murni untuk Allah SWT tidak akan diterima.

Kita tentu masih ingat dalam kitab-kitab yang membahas tentang “Ikhlas” disitu disebutkan sebuah hadist yang sangat panjang. Dimana orang yang telah mempersembahkan puncak-puncak sebuah amalan (yakni : mati syahid, dermawan dan ahli ilmu /ulama) tidak diterima Allah SWT. Bisa jadi dengan mata lahiriah, manusia akan mengatakan bahwa mereka sudah pasti Ahli Surga. Tetapi Allah SWT Maha Tahu apa yang terbentik dalam hati dada manusia.

Maka selain dari tatacara-nya, niat adalah pasangannya ! tanpa itu atau salah satunya so dijamin amal akan menguap tidak berarti. Alias harus Ikhlas

39:2. Sesungguhnya Kami menurunkan kepadamu Kitab (Al Qur'an) dengan (membawa) kebenaran. Maka sembahlah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya.

4:36. Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapa, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri,

17:23. Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan "ah" dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia.

Tugas utama para Rosul dan Nabi

Allah SWT telah memberitakan dalam Al Qur’an bahwa persoalan Aqidah dalam hal Ketauhidan sebagai PR utama para Nabi dan Rosul. Sebagai pondasi yang paling mendasar dalam mengarungi hidup, menghambakan diri dan beramal kepada Allah SWT. Berikut ayat-ayatnya :

16:36. Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): "Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu", maka di antara umat itu ada orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah dan ada pula di antaranya orang-orang yang telah pasti kesesatan baginya. Maka berjalanlah kamu di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul).

7:59. Sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya lalu ia berkata: "Wahai kaumku sembahlah Allah, sekali-kali tak ada Tuhan bagimu selain-Nya." Sesungguhnya (kalau kamu tidak menyembah Allah), aku takut kamu akan ditimpa azab hari yang besar (kiamat).

7:65. Dan (Kami telah mengutus) kepada kaum Ad saudara mereka, Hud. Ia berkata: "Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada Tuhan bagimu selain-Nya. Maka mengapa kamu tidak bertakwa kepada-Nya?"

7:73. Dan (Kami telah mengutus) kepada kaum Tsamud saudara mereka, Saleh. Ia berkata. "Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada Tuhan bagimu selain-Nya. Sesungguhnya telah datang bukti yang nyata kepadamu dari Tuhanmu. Unta betina Allah ini menjadi tanda bagimu, maka biarkanlah dia makan di bumi Allah, dan janganlah kamu mengganggunya, dengan gangguan apa pun, (yang karenanya) kamu akan ditimpa siksaan yang pedih."

7:85. Dan (Kami telah mengutus) kepada penduduk Madyan saudara mereka, Syuaib. Ia berkata: "Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada Tuhan bagimu selain-Nya. Sesungguhnya telah datang kepadamu bukti yang nyata dari Tuhanmu. Maka sempurnakanlah takaran dan timbangan dan janganlah kamu kurangkan bagi manusia barang-barang takaran dan timbangannya, dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi sesudah Tuhan memperbaikinya. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika betul-betul kamu orang-orang yang beriman".



bersambung ...

Penulis :
Yudha Yudhaanto

Sumber :
Catatan Pengajian 03-08-2008 // Colomadu // Ust. Didik JS, MSi