Monday, September 8, 2008

Life is a Problem

Oleh : M. Rum Budi S.

Hidup itu masalah bung!. Manusia hidup itu tak pernah sepi dari masalah, ada saja masalah yang mengikuti perjalanan hidupnya. Manusia berjalan dari masalah satu menuju masalah lain, sepanjang umurnya sampai maut menjemput. Bahkan kematian itu sendiri adalah masalah karena manusia tidak tahu kapan datangnya kematian itu. Hidup dan matinya manusia itu bukan kehendak manusia itu sendiri, tetapi semua itu dikehendaki Allah, supaya manusia itu berbuat sebaik-baiknya menurut kehendak-Nya. “ Dia yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun “ (QS Al Mulk : 2).

Kadar masalah yang dihadapi manusia dari masing-masing zaman itu berbeda-beda. Tetapi serumit apapun masalahnya, manusia senantiasa menemukan jalan keluarnya. Manusia memang tidak dibebani masalah oleh Allah kecuali sekedar kesanggupannya, sehingga tingkat keberhasilan manusia dalam memecahkan setiap masalah yang dihadapi itu tergantung dari usahanya. “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya…….” (QS Al Baqarah: 286).

Ketika manusia berhasil dalam usahanya memecahkan suatu masalah, maka di dalam hatinya akan timbul kegembiraan dan dalam dirinya muncul rasa sukses. Dan bila manusia itu dalam usahanya itu mentok tak berdaya dalam menghadapi masalah maka perasaanya akan gundah-gelisah, bahkan sulit tidur dan seakan-akan hidupnya gagal total. Padahal kemudahan dan kesulitan merupakan takdir Allah kepada manusia untuk mengahapi masalah hidup. Oleh karena itu bila manusia tidak menghendaki kerumitan hidupnya, maka jangan lari dari masalah yang sedang dihadapi atau masalah itu jangan dibiarkan menggantung. Coba disadari betul bahwa masalah hidup itu harus dihadapi sebagai kenyataan, yang akan merangkai kemudahan dan kesulitan hidup ini.” Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan., Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain, dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap
". (QS Alam Nasyrah : 5-8)   

Karena masalah hidup manusia itu Given dari Allah, maka masalah itu sifatnya alami dan akan datang sendiri menghampiri manusia disetiap tahapan kehidupannya, ndak usah dicari dan diciptakan. Apapun posisinya manusia akan mengalami masalah dan pokok masalah dari semua masalah itu adalah islam. Dengan demikian selama manusia itu mau berjalan dengan cara islami, sebenarnya masalah-masalah hidup yang dihadapi akan mudah teratasi. Tetapi kebanyakan manusia tidak yakin dengan cara islam (dinul islam), justru cara kekafiran (cara barat) yang sering dipilih sebagai alternatife solusinya. Padahal Allah berfirman: “Sesungguhnya agama (cara hidup) yang diridhai di sisi Allah hanyalah Islam. .............”. (QS Ali Imran: 19).  

Agama Islam memang dipilih oleh Allah sebagai problem solfer, dan rumusan yang paling ampuh di dalam Agama Islam untuk menghadapi semua permasalahan adalah sikap taqwa kepada Allah, yaitu menjauhi semua larangan-Nya dan memenuhi segala perintah-Nya. “................. Barang siapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan ke luar. (QS Ath Thalaq : 2).

Setiap cara yang ditempuh oleh orang mukmin dalam menghadapi masalah, semestinya mengikuti cara-cara yang ditempuh oleh para Nabi, para Siddiqin, para Syuhada dan para Sholihin, manusia yang telah jelas taatnya kepada Allah dan Rasul-Nya. Bukan jalan pemecahan yang telah disodorkan para Wali Songo atau orang yang dianggap wali oleh masyarakat.
Sesungguhnya lebih mengagumi cara hidup yang ditempuh oleh para wali itu dibandingkan dengan mengagumi cara hidup Rasulullah Shallahu’alaihi wa sallam, para sahabatnya, dan para ulama salafi shaleh adalah masalah besar kebodohan umat. 



Friday, September 5, 2008

Prof. Dr. Percuma

oleh: M. Rum Budi S.

Berangkat dari kekaguman saya kepada Pak Dosen yang bergelar Prof. Dr. berumur setengah baya itu, teman-teman mahasiswa sering menyebutnya orang pinter. Sebagai dosen senior kalau berkomunikasi dengan mahasiswanya dan sesama teman dosen, sikapnya sopan, kata-katanya santun, bahasanya mengalir bagus. Tampak di mata saya seperti orang sholeh yang kehidupan dunianya sangat menyenangkan. Secara materi jelas hartanya lebih dari cukup. Ketika presentasi dalam seminar pendapatnya gampang diterima, karena konsepnya yang sederhana dan aplikatif. Tak saya duga, ternyata beliau tidak mengenal Tuhannya, karena beliau hanya percaya bahwa kehidupan di jagad raya ada karena sendirinya dan rusak karena sendirinya. Dalam hati saya kaget dan bertanya kenapa beliau susah percaya kalau semua itu ada yang menghendaki atau ada penciptaanya?, padahal banyak ahli yang kapasitasnya setara dalam satu profesi, akan  mudah sekali membuktikan kebenaran Allah sebagai Maha Pencipta. Saya sadar itu masalah hidayah Allah dan terserah kehendak Allah. "Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh itu (Ucapan Tauhid) dalam kehidupan di dunia dan di akhirat; dan Allah menyesatkan orang-orang yang dzalim dan memperbuat apa yang Dia kehendaki". (QS Ibrahim : 27). 

Kekagumanku terus berubah lebih dari kecewa, karena beliau sang Prof. Dr. tersebut punya murid yang saya juga kenal, sebenarnya di bidang profesinya murid tersebut saya tahu nggak bodo-bodo amat, alur logikanya bagus juga. Tapi sama saja “setali tiga uang” dalam konsep keyakinannya, katanya: “bagaimana mungkin orang yang sudah mati, bisa dibangkitkan kembali?”. Dengan sedikit mengejek, teman saya tadi mencoba memancing kemarahan saya untuk menjawabnya. Tapi saya senang ngambil sikap diam, bukankah berbantahan dengan orang semacam itu menyesatkan?, karena saya pikir percuma saja, orang yang berbeda keyakinan kalau berdiskusi tentang keimanan ndak akan nyambung, tak akan mungkin bisa menemukan konklusinya. Orang-orang semacam itu sama saja, diberi jawaban atau tidak diberi jawaban, tetap saja tidak beriman. Saya ingat perbandingan antara orang yang beriman dengan Allah dan Hari Akhir dan yang tidak beriman itu, seperti  Firman Allah : Perbandingan kedua golongan itu (orang-orang kafir dan orang-orang mukmin), seperti orang buta dan tuli dengan orang yang dapat melihat dan dapat mendengar. Adakah kedua golongan itu sama keadaan dan sifatnya? Maka tidakkah kamu mengambil pelajaran (daripada perbandingan itu)?. (QS Huud : 24)
.
Menurut pandangan masyarakat, orang yang sama-sama bergelar Prof. Dr., hidupnya di dunia sama-sama terhormat, tetapi kalau dicermati lebih lanjut dengan kacamata keimanan, sifat Prof. Dr. mukmin dan sifat Prof. Dr. kafir itu sangat berbeda sekali, apalagi kehidupannya di akherat nanti.  P
ercuma saja jadi orang bergelar Prof. Dr., mengakunya orang islam tapi keyakinannya jauh dari kebenaran Allah (Al-Quran) dan Rasul-Nya (Nabi Muhammad Sallahu’alaihi wassalam). Orang semacam itu saya sebut dengan gelar "Prof Dr. Percuma", gelar tersebut termasuk orang-orang yang bergelar Prof. Dr. di dalam kelompok pemikir islam liberal, muridnya Bpk. Ulil Abshor Abdalla (Tokok Islam Liberal Indonesia).